Hidayatullah.com– Pemuda Muslim sangat perlu memiliki kompetensi keilmuan dan kepiawaian ekonomi. Khususnya dalam menghadapi tantangan zaman, yang mana ada sebuah prediksi kelangkaan serta kompetisi global.
Hal itu disampaikan pemerhati politik internasional, Arya Sandhiyudha, Ph.D dalam acara tatsqif bertema “Pemuda Sebagai Turbin Kebangkitan Peradaban” di Masjid Ad-Dakwah, Cempaka Putih, Jakarta, Ahad (23/10/2016).
Arya menjelaskan, di antara penyebab kompetisi global adalah soal kelangkaan energi fosil yang selama ini telah menjadi latar belakang banyak konflik.
Persoalannya, kata dia, negara-negara kini menyadari akan keterbatasan kesediaan sumber energi (fosil), sehingga mereka berusaha untuk mencari sumber energi lain.
Karena, menurutnya, diperkirakan energi fosil tersebut akan habis sebelum 2050 mendatang akibat konsumsi yang semakin meningkat.
Adapun alternatif selain energi fosil adalah energi bio. Seperti pangan, air, energi matahari, angin, dan sebagainya.
“Tren tantangan ini perlu dibaca, sehingga peluang tersebut harus diambil oleh pemuda Islam untuk bersiap menghadapinya,” ujarnya.
Arya mengatakan, dalam Islam, kita diminta bersiap dengan segenap tenaga menghadapi pertarungan.
Dan pertarungan masa kini, lanjutnya, membutuhkan kompetensi keilmuan dan kepiawaian ekonomi.
Hal itu untuk menjaga dan mengelola energi fosil ataupun energi hayati/bio yang telah Allah anugerahkan kepada manusia.
“Kenapa kita sangat perlu? Karena bio energi tersebut terbesar berada di daerah khatulistiwa. Indonesia merupakan negara yang memiliki 2 potensi tersebut (energi fosil dan bio energi).
Sehingga negara yang memiliki energi tersebut akan menjadi perebutan negara maju sedunia, dan ini artinya negara bangsa kita rentan timbul masalah keamanan,” jelasnya.
Tiga Ciri Pemuda Muslim
Direktur Eksekutif Madani Center for Development and International Studies (MaCDIS) ini menambahkan, ada 3 tiga ciri yang harus dimiliki pemuda Muslim, untuk tampil memberi solusi bagi Indonesia.
Pertama, terangnya, pemuda Muslim musti memiliki ideologi yang kuat, semangat, dan pemahaman keislaman berdasarkan hal-hal yang digariskan oleh al-Qur’an.
Juga, lanjutnya, pemahaman Islam sebagai ideologi yang modern, komprehensif dan menjadikan akhlaqnya bersahabat. Sehingga, dapat berinteraksi dan berkolaborasi dengan kalangan manapun.
“Kedua, mesti memiliki kompetensi keilmuan yang sesuai dengan tantangan zaman. Di antaranya terkait energi, pangan, dan lingkungan, termasuk diplomasi untuk memenangkan penjagaan dan pengelolaan kesemuanya bagi negeri,” papar Arya.
Terakhir, pungkasnya, pemuda Muslim harus piawai secara ekonomi. Menjadi pemuda yang mandiri, mengembangkan social entrepreneur, bermanfaat untuk orang lain, dan akhirnya menjadi inspirasi untuk yang lain dan generasi setelahnya.* Kiriman Joni Yulisman