Hidayatullah.com–Tidak kurang dari seratus undangan, termasuk ulama di Jawa Timur Sabtu (29/04/2017) memenuhi ruang pertemuan di Graha Ikatan Da’I Indonesia (IKADI) guna menghadiri acara ‘Mudzakarah Dai’ dengan tema “Etika Perbedaan dalam Berdakwah“.
Acara yang diselenggarakan oleh Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur ini menghadirkan Ustad Sholeh Drehem (Ketua IKADI Jatim) dan Prof. Dr. KH Ridwan Nasir, MA (Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya).
Mudzakarah Da’I diadakan setiap bulan dengan tuan rumah bergantian di kantor beberapa lembaga dakwah.
KH Abdurahman Navis, Wakil MUI Jatim dalam sambutannya menyampaikan pentingnya etika dalam menyikapi perbedaan.
Menuruynya, mudzakarah Komisi Dakwah MUI untuk membahas etika menyikapi perbedaan dalam berdakwah di tengah umat.
“Mudzakarah ini memang berbeda. Dari bermacam-macam organisasi kita bertemu dengang tema perbedaan. Tantangan umat, masing masing kelompok bangga dengan apa yg dilakukan. Komisi Dakwah MUI Jatim ingin mendapatkan titik singgung yang sama,” tambahnya.
Sebagai tuan rumah, Ustad M. Sholeh Drehem dalam sambutan menyampaikan pentingnya umat Islam ambil peran dalam membangun bangsa dan Negara.
Umat saat ini mayoritas namun dikendalikan oleh minoritas. Kalau kita tidak melakukan hal yang sama maka akan timbul fitnah yg besar, ujarnya.
“Upaya MUI Jatim untuk menyatukan kita perlu kita apresiasi. Semoga kita bisa menyikapi dengan baik dinamika terkini dan bisa memberikan kontribusi terbaik untuk bangsa dan Negara,” tambah Ketua IKADI Jatim ini.
Pembicara lain, Ahmad Mudzoffar Jufri Lc.MA mengawalinya pertanyaan tentang etiskah jika diantara kita masih saja memperdebatkan perbedaan-perbedaan dan sederet khilafiyah yang telah menghabiskan energi umat.
“Khilafiyah sudah ada sejak salafus shalih. Kita mewarisi khilafiyah para imam. Sayang pewarisan kita tidak lengkap yaitu bagaimana etika beliau (para ulama salaf) dalam masalah khilaf,” ujarnya.
Ahmad Mudzofar menceritakan bagaimana Imam Ahmad Ibnu Hambal dan Imam Syafi’i bersahabat. Dua imam tersebut saling memuji, walau banyak perbedaan-pendapat diantara mereka. Imam Ahmad selalu berdoa khusus untuk Imam Syafi’i. Sikap antar imam, antar guru dan murid itulah yg perlu diteladani, lanjut Mudzofar.
Baca: Meski Beda Pendapat, Imam Ahmad Doakan Syafi’i 40 Tahun
Acara ini juga dihadiri Prof. Dr Aminuddin Kasdi, Guru Besar Sejarah Universitas Neger Surabaya (Unesa) yang menguraikan peristiwa-peristwa seputar Pemberontakan G30 S PKI dn gejala-gejala kebangkitannya di era sekarang.
Menurutnya, hal ini sangat terkait dengan kegiatan dakwah, karena PKI juga menggunakan sebagian mmat Islam sebagai tameng untuk bersembunyi.
Forum mudzakaroh merupakan impian para da’i dan aktivis lintas gerakan (harakah). Semoga bisa ditindaklanjuti melalui program yang lebih bermanfaat untuk umat.*/kiriman Firman Arifin (Surabaya)