Hidayatullah.com–Perluasan Kristen erat kaitaannya dengan kolonialisme. Penjajah dan Eropa berhasil mengkristenkan wilayah Asia Tenggara sekitar 20%.
“Wilayah Asia Tenggara berusaha dikristenkan oleh para penjajah dari Eropa, namun hanya sekitar 20% yang berhasil dikristenisasi. Kala itu, Kristen erat kaitannya dengan kolonialisme, sedangkan dana sengaja dikucurkan untuk kristenisasi,” tutur Dr. Tiar Anwar Bachtiar Rabu (23/08/2017), saat menjelaskan awal mula munculnya Kristen di Asia Tenggara.
Bertempat di Aula INSISTS, Kalibata, Jakarta Selatan, Doktor Sejarah lulusan Universitas Indonesia (UI) ini menjelaskan tiga tantangan dalam dakwah menurut M. Natsir, yaitu kristenisasi, sekularisme, dan nativisasi.
Baca: Perbaiki Cara Pandang Keindonesiaan-Keislaman, Sejarawan Sarankan Revisi Kurikulum Sejarah
Penulis buku “Hamas, Kenapa Dibenci Israel?” itu mengatakan dalam pertemuan ke-12 perkuliahan Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakarta angkatan 2017 bahwa setelah Indonesia merdeka, para misionaris tetap menjalankan misinya, yaitu dengan mengkader masyarakat pribumi.
“Ketika sensus diadakan pada tahun 80-an, ditemukan dua juta orang telah menjadi Kristen, jumlah yang cukup banyak jika dibandingkan jumlah penduduk pada tahun itu. Salah satu penyebabnya yaitu ketika penumpasan PKI pada tahun 60-an, para anggota PKI yang bersembunyi banyak dilindungi oleh gereja karena PKI merupakan musuh Islam, kemudian mereka mengubah agama di KTP-nya menjadi Kristen,” papar Tiar.
Lebih lanjut, Tiar mengatakan, “Para aktivis dakwah telah mengawasi pembangunan gereja dengan mendirikan pesantren-pesantren. Alhamdulillah, banyak yang dari Islam menjadi Kristen bisa kembali lagi ke Islam.”
Tiar menjelaskan tantangan kedua dalam dakwah, yaitu sekularisme, yang dibawa oleh pemerintah kolonial Belanda ke Indonesia.
“Pemikiran yang dijadikan sebagai referensi kebenaran oleh Barat adalah sekularisme. Mereka lahir dari ketidakpercayaan, menganggap agama sebagia biang kerok atau sumber masalah. Sekularisme memisahkan agama dengan yang bukan agama. Tapi yang dilakukan sebenarnya bukan memisahkan agama, melainkan menghilangkan agama,” jelasnya.
Baca: Nativisasi Cenderung Tonjolkan Nilai Tradisi dan Kesampingkan Nilai Agama
Tantangan ketiga adalah nativisasi. Tiar menerangkan nativisasi sebagai gerakan ‘kembali ke yang asli’. Permasalahan muncul ketika menentukan mana yang paling asli.
“Pemikiran nativisme tidak pernah sama dari kepala satu orang ke kepala orang lain. Nativisme tidak dapat membuktikan klaim keasliannya, dan ini sangat mengganggu,” ujarnya.
Salah seorang peserta SPI yang hadir malam itu, Kori, menyampaikan pendapatnya tentang materi yang telah diberikan di kelas. “Ustadz Tiar menyampaikan dengan sangat jelas, sehingga saya menjadi paham tentang sejarah masuknya Kristen ke Indonesia, begitu juga dengan sekularisasi, dan nativisasi yang sekarang orang banyak yang menyangka itu adalah bagian dari kebudayaan atau adat istiadat saja,” terangnya.*/Ony Dharma Prayogi