Hidayatullah.com–Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah mengundang Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini untuk bersilaturrahmi dengan perwakilan unsur masyarakat Indonesia di Jeddah, Sabtu, 12 Mei 2018.
Pertemuan silaturrahmi dengan Wali Kota digelar di lobi utama di kantor KJRI usai kunjungan kerjanya ke Kota Suci Madinah atas undangan Pemerintah Arab Saudi menjadi pembicara pada konferensi internasional bertajuk humanizing cities yang berlangsung dari 7-10 Mei di Universitas Taibah Madinah.
Dalam sambutannya, Konsul Jenderal (Konjen) RI Jeddah, Mohamad Hery Saripudin, menyampaikan bahwa Tri Rismaharini merupakan salah satu sosok wali kota inspiratif yang berhasil menerapkan kebijakan bukan saja good governance melainkan juga smart governance dalam memajukan kota yang yang dipimpinnya selama dua periode.
Menurut Konjen, berbicara tentang kota bukan saja menyangkut pembangunan infrastruktur, melainkan juga pembangunan sumber daya manusia beserta lingkungannya yang ramah.
“Wali Kota Surabaya tidak saja telah mengimplementasikan good governance tapi juga melahirkan konsep smart governance. Terbukti dari inisiatif ibu untuk menjadikan Surabaya sebagai smart city,” puji Konjen.
Di hadapan sekitar seratus peserta pertemuan, Tri Rismaharini berbagi pengalaman seputar upayanya membangun Kota Surabaya dan mensejahterakan warganya mulai dari penataan wajah kota, pelayanan masyarakat di bidang sosial, pendidikan dan kesehatan, pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan kewirausahaan hingga pembagunan infrastruktur kota.
Penataan wajah Kota Surabaya antara lain dilakukan dengan penataan kampung dan pembangunan taman di tengah kota yang dilengkapi dengan wifi gratis di sebanyak 1900 titik dan fasilitas olahraga bagi warga yang berjumlah sebanyak 403 lapangan.
“Taman itu sebentulnya bukan hanya untuk indah, tapi di taman itu terjadi interaksi sosial. Masyarakat bisa berkomunikasi. Itu meredam ketegangan, bapak-ibu sekalian,” ucap Risma.
Di bidang pelayanan pendidikan, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mendirikan,antara lain, broadband learning center, perpustakaan dan taman baca di taman-taman kota, rumah bahasa, dan rumah matematika. Selain itu, Pemkot mengratiskan iuran Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) dari jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah menengah Atas (SMA).
“Saya di Surabaya ini, kesehatan dan pendidikan itu gratis. Jadi sampe SMA waktu saya jadi wali kota. Tapi dua tahun lalu, gugatan saya (penggratisan SPP untuk SMA) di MK ternyata kalah. Jadi diambil provinsi. Sekarang mulai bayar lagi ,” ungkap Risma.
Pembebasan biaya bagi warga Surabaya diberlakukan juga di bidang pelayanan kesehatan.
Di bidang pelayanan sosial dan pemberdayaan masyarakat, Pemkot Surabaya berhasil menutup lokalisasi dolly dan menyulapnya menjadi sentra Usaha Kecil Menengah (UKM) yang berhasil meningkatkan taraf perekonomian masyarakat setempat melalui sejumlah program pemberdayaan warga. Warga diberikan pelatihan mengenai keterampilan budidaya tanaman melalui program urban farming dan pengemasan produk dan branding sehingga bernilai ekonomi tinggi dan menfasilitasi pengurusan izin dan hak paten.
“Jadi saya ingin membuktikan bahwa Allah itu ada. Dan Allah itu Maha Kuasa. Kalau kita meminta, pasti Allah akan memberi. Kalau ada kemauan, insya Allah bisa,” pesan Risma.
Salah satu bukti keberpihakan Risma kepada warga Surabaya dan masyarakat kota sekitarnya ditunjukkan dengan penolakan tegas pembangan jalan tol tengah kota, karena menurutnya, jalan merupakan fasilitas umum yang harus dinikmati oleh semua kalangan.
Risma juga menyempatkan diri mengunjungi shelter KJRI Jeddah yang dihuni oleh para pekerja migran Indonesia yang tengah menghadapi berbagai permasalahan dengan pengguna jasa atau sponsor.*