Hidayatullah.com–“Kecintaan anak-anak kita kepada Allah dan kepada Al’Quran harus dibangun bahkan sejak mereka ada dalam kandungan. Salah satu caranya adalah dengan banyak memperdengarkan lantunan Quran kepada ibu yang sedang hamil,” demikian paparan Zakiyullah Romdlony (alhafidz), narasumber materi Membangun Generasi Qurani dalam Kegiatan Kajian Islam Musim Semi 2016 yang diselenggarakan di Masjid Bair ar Rahman Riddekerk pada hari Minggu lalu.
Di usianya yang belum genap tiga puluh tahun, Zakiyullah sudah menjadi hafidz Quran. Di tengah kepadatan aktivitasnya sebagai seorang kandidat doktoral di Universitas Groningen di bidang Teknologi Diskrit dan Automasi Produksi, Zakiyullah masih sempat mengisi berbagai forum pengajian di berbagai Kota di Belanda.
Pemuda lulusan dari Institut Teknologi Bandung ini dalam sesinya menceritakan berbagai keajaiban Al-Quran dari perspektif sains.
“Perbandingan antara jumlah penyebutan kata daratan dan lautan misalnya, kata ‘daratan’ diulang sebanyak 13 kali dan ‘lautan’ diulang sebanyak 32 kali dalam Al-Quran, angka tersebut sesuai dengan proporsi luas daratan dan lautan di dunia hari ini,” demikian tutur Ustadz Zaki dalam materinya.
Kegiatan Kajian Islam Musim Semi (KALAMI) 2016 merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh Stichting Generasi Baru (SGB) Utrecht, sebuah yayasan tempat berkumpulnya pemuda-pemuda Islam di Kota Utrecht yang rutin mengadakan kegiatan-kegiatan keagamaan dan kebudayaan. Sebut saja diskusi rutin hari Jumat, kajian Quran dan kitab hadits, diskusi akademis persoalan-persoalan Indonesia bersama Perhimpunan Pemuda-Pelajar Indonesia (PPI), kursus bahasa Belanda, dan pengajian TPA untuk anak-anak Indonesia di Belanda.
Dalam sambutannya, Supardi Hasanudin, seorang ekspatriat Indonesia yang juga Ketua Umum SGB menyampaikan mimpi SGB untuk dapat membangun masjid dan juga pusat kebudayaan Indonesia di Kota Utrecht.
“Selama ini SGB masih menyewa bangunan. Di Amsterdam, Rotterdam, dan Den Haag sudah ada masjid Indonesia. Insya Allah kami punya mimpi untuk membangun sebuah masjid di Utrecht sebagai kota terbesar keempat di Belanda.”
SGB Utrecht bekerjasama dengan Pengurus Masjid Ridderkerk Rotterdam mendapat dukungan penuh dari sembilan komunitas pengajian Kota di Belanda, diantaranya: Pengajian Annisa Utrecht, KMD (Keluarga Muslim Delft), IMEA (Indonesian Muslim in Enschede Association), De Gromiest (De Groningen’s Indonesian Muslim Society), KAMIL (Keluarga Muslim Limburg), Musihoven (Muslim Eindhoven), KEMUNI (Keluarga Muslim Nijmegen), Pengajian Wageningen, HIMMI (Himpunan masyarakat muslim Indonesia), dan PPMR (Persatuan Pelajar Muslim Rotterdam).
Tak heran bila jumlah peserta kali ini mencapai 3 kali lipat dari biasanya, 150 orang peserta pria-wanita, termasuk remaja dan anak-anak dari seluruh Belanda.
KALAMI kali ini diramu dengan menghadirkan empat Materi ke-Islaman yaitu: Tantangan Muslim sebagai minoritas di Eropa, Menjadi Muslim Profesional, Islam dan Konsep Tauhid, dan Membangun Generasi Qurani. Selain itu, kegiatan dua hari penuh menginap di masjid ini juga dilengkapi dengan Qiyamul Lail dan Muhasabah bersama.
Sebagai ketua penyelenggara KALAMI, Supardi menuturkan bahwa tujuan diadakannya KALAMI adalah sebagai wahana menambah ilmu dan menemukan kembali semangat untuk kembali mendalami peta kehidupan kita dalam bingkai hidayah Allah Subhanahu Wata’ala.
“Rutinitas yang kita jalani seringkali membuat kita lupa hakikat dari perjalanan hidup. Padatnya aktivitas, menjadikan kita jauh pada pedoman hidup, yaitu Al-Quran” tambah Supardi.
Acara KALAMI kali ini juga diperkaya dengan sesi kuliah tamu dari Prof. Dr Amal Zarkasy dan Dr. Hamid Fahmi Zarkasy, dua orang pimpinan Pondok Pesantren Gontor, yang mengulas Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam.
Dalam diskusi tersebut, Fahmi Zarkasyi memaparkan bahwa kemunduran Peradaban Islam di zaman pertengahan tidak bisa secara sederhana dilihat hanya karena faktor Al Ghazali dan penolakannya terhadap filsafat, tetapi juga faktor semakin pudarnya aqidah orisinil islam dan munculnya banyak perpecahan dan problem politik, yang membawa kepada hancur dan rusaknya sumber daya manusia, baik secara intelektual maupun moral.
Dr. Fahmi Zarkasyi menekankan pentingnya para muslim untuk menjadi intelektual agar dapat kembali menjadi pemimpin peradaban. Doa dari Kyai karismatik Gontor, Prof. Amal Zarkasy, menambah keberkahan tersendiri menyudahi acara ini.*/kiriman Siswanto, KALAMI Utrecht