Hidayatullah.com- Perlunya dilakukan evaluasi dan pemantapan manasik haji kepada seluruh jamaah haji di dunia, terutama negara-negara terbelakang tentang pola hidup selama haji.
Demikian keterangan disampaikan Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, DR. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc menanggapi terjadinya tragedi Mina, Kamis (24/09/2015) pagi.
“Pola hidup itu seperti pola antrian, pola pergerakan waktu ibadah, disiplin waktu, solidaritas rombongan dan sebagainya,” ujar Sodik saat dihubungi hidayatullah.com melalui pesan singkat, Kamis (24/09/2015).
Sodik menilai selama ini manasik dilakukan hanya lebih kepada persoalan ibadah. Padahal, tata cara ritual ibadah haji sederhana dan yang paling utama perlu adanya disiplin rombongan regu per regu ataupun kontingen per kontingen serta mempunyai kapasitas pemimpin yang tahu medan dan kepemimpinan yang kuat.
“Tantangan medan dan acara haji sangat berat. Bagaimana jika pemimpin rombongan tidak tahu medan, dan bahkan leadership lemah hanya bisa membimbing ibadah saja. Bayangkan dengan pemimpin regu atau pleton atau pasukan di TNI yang punya leadership kuat,” ujarnya.
Sodik memberikan masukan supaya adanya extra-pengamanan yang luar biasa di titik-titik agak rawan dengan pelipatan jumlah petugas, peralatan dan sistem informasi di titik-titik rawan. Sebab di mana musibah itu bisa terjadi di mana dan kapan saja, sehingga jamaah bisa pindah ke jalur lain jika terjadi sesuatu di luar dugaan.
“Dengan pengalaman 20 kali membawa jamaah haji, sebetulnya daerah yang sekarang munculnya musibah bukan daerah rawan seperti di titik Jamarot. Ini hanya jalur biasa saja tetapi bisa juga menyebabkan musibah,” katanya.
Lebih lanjut lagi, Sodik meminta Kerajaan Saudi Arabia (KSA) supaya melakukan evaluasi secara spiritual syariah, baik mengenai pelurusan niat serta pengendalian ambisi dan seterusnya.
“Maksud hati ingin aman tetapi justru di Masjidil Haram terjadi musibah. Maksud hati akan amankan wilayah Masjidil Haram tetapi justru meledak di titik aman, daerah Mina,” demikian tandasnya.*