Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Neo-Konservatif AS Lebih Berbahaya dari Lobi Yahudi

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 20 April 2004 11:26 11:26 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 20 April 2004 11:26
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Komentar keras itu disampaikan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Liga Arab Amr Moussa dalam wawancara dengan harian berbahasa Arab Al-Qabas, di Kuwait City, Senin (19/4). Ia berada di Kuwait untuk membahas masalah tertundanya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Arab.

“Neo-konservatif jauh lebih berbahaya dibanding dengan lobi Zionis Yahudi. Mereka tidak lebih radikal dibanding ekstremes lain dari agama mana pun. Masalah itu untuk saat ini sangat kritis, karena ini persoalan ideologi,” jelas Moussa.

Namun, dalam wawancara itu, Moussa tidak membahas lebih jauh tentang bahaya tersebut. Ia justru mengkritik keras kebijakan Bush tentang Israel, setelah kunjungan PM Israel Ariel Sharon ke Washington, pekan lalu. “Saya tidak pernah membayangkan, satu negara adi kuasa (seperti AS) bisa membuat kebijakan yang begitu bias, hingga memungkinkan satu partai melawan partai lain,” tegasnya.

Ungkapan pedas itu dissampaikan menanggapi keputusan Bush untuk sepenuhnya mendukung keputusan Sharon yang sangat kontroversial. Sebelum bertolak ke Washington, Sharon menegaskan, tetap ingin mempertahankan kekuasaan Israel di enam permukiman Yahudi di Tepi Barat, meski jelas-jelas berada di wilayah Palestina.

Moussa mengakui, sedikitnya pilihan dalam penyelesaian Israel-Palestina tersebut. “Yang sudah ada di genggaman kita adalah menolak untuk menyerah… satu-satunya (kartu) yang kita miliki adalah menolak (usulan) itu, dan membiarkan konflik itu berlalu tanpa penyelesaian…,” kata Moussa.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Trio Neo-Konservatif

Walau Moussa tidak menjelaskan secara gamblang, namun ungkapan itu memicu pada ingatan tentang Memo Neo-Konservatif tahun 1998 berupa cetak biru Perang Irak. Mengutip Nightline, ABC News mencatat, pada tanggal 10 Maret, beberapa tahun sebelum Bush memasuki Gedung Putih, dan sebelum meletus serangan teror 11 September 2001, salah satu kelompok sangat berpengaruh yang diperkuat grup neo-konservatif menyampaikan rencana menggulingkan Presiden Iraq Saddam Hussein.

Kelompok yang kemudian membangun Proyek untuk Abad Baru Amerika (PNAC) itu didirikan tahun 1997. Tiga di antara pendukungnya yang berasal dari Partai Republik, sempat terdepak di era pemerintahan Bill Clinton yang berasal dari Demokrat.

Namun, di era Bush, ketiga orang itu kini menjadi aktor utama. Ketiga tokoh utama itu, terdiri dari Donald Rumsfeld, kini Menteri Pertahanan (Menhan) AS, Dick Cheney (Wakil Presiden), dan Paul Wolfowitz (Deputi Menhan yang juga pernah menjabat Duta Besar AS untuk Indonesia).

Dalam surat terbuka yang mereka sampaikan kepada Presiden Clinton dan Kongres tahun 1998, kelompok itu menekankan, bahkan meminta pemerintah AS menggulingkan rezim Saddam Hussein. Selain itu, mereka meminta AS mengubah kebijakannya di Timur Tengah agar lebih asertif. Bahkan jika perlu, AS menggunakan kekuatan senjata dalam menggulingkan Saddam Hussein.

Dalam salah satu laporan yang muncul hanya beberapa saat sebelum pemilu AS tahun 2000 yang membawa kemenangan untuk Bush yunior, kelompok itu memprediksikan, perubahan kebijakan politik luar negeri AS untuk Timteng akan berjalan lambat. Terutama jika tidak diimbangi dengan kejadian tragis, berupa bencana sangat luar biasa, seperti peristiwa Pearl Harbor.

Dan, pemikiran itu benar-benar menjadi kenyataan, pada 11 September 2001. Waktu itu, di saat orang masih terlelap, lima pesawat secara hampir bersamaan menghancurkan menara kembar World Trade Center (WTC) New York, sayap kanan Pentagon (Washington), dan dua pesawat lain jatuh di Pennsylvania. Setidaknya 3.000 orang tewas dalam tragedi terbesar tahun itu.

“Satu-satunya strategi yang bisa diterima hanyalah strategi yang bisa menghilangkah seluruh kemungkinan Iraq menggunakan senjata pemusnah massal. Untuk jangka pendek, hal itu berarti kesediaan menggunakan aksi militer dalam diplomasi, jelas lemah. Untuk jangka panjang, itu berarti menggulingkan Saddam Hussein dan rezimnya dari kekuasaan,’ demikian salah satu alenea dalam surat tersebut.

Sekitar 10 dari 18 orang yang menandatangani surat itu, sekarang duduk dalam pemerintahan Bush yunior. Selain Rumsfeld dan Paul Wolfowitz, juga termasuk Deputi Menlu Richard Armitage, Wakil Menteri Bidang Perlucutan Senjata John Bolton, dan Zalmay Khalilzad penghubung Gedung Putih dengan oposisi Iraq. Penandatangan lain, termasuk William Kristol, editor majalah Weekly Standard yang konservatif, serta Richard Perle, Ketua Dewan Penasihat bidang Ilmu Pengetahuan untuk Pertahanan.

Ketika serangan teror 11 September 2001 terjadi, Dick Cheney menjabat sebagai Wapres AS, Donald Rumsfeld memegang posisi Menhan dengan Deputi Menhan Paul Wolfowitz. Wartawan harian Washington Post, Bob Woodward dalam buku Bush At War menulis, “keesokan harinya, ketika belum ada kejelasan siapa yang berada di balik serangan itu, Rumsfeld dalam pertemuan Kabinet, menekankan, Saddam di Iraq harus menjadi target utama dalam putaran pertama memerangi terorisme.”

Tujuh ciri Neo-Konservatif

Justin Raimondo, Direktur Editorial Antiwar.com dan penulis Reclaiming the American Right: The Lost Legacy of the Conservative Movement, mencatat, setidaknya ada tujuh ciri neo-konservatif. Yaitu, selalu menginginkan satu kekaisaran dengan perang Iraq dan Serbia, menentang hukum internasional dan hanya mengutamakan kepentingan Amerika.

Juga, sedikit mendukung konstitusi tentang kebebasan, mendukung perluasan pendudukan Israel di Tepi Barat, sama sekali tidak memiliki pengalaman militer atau bidang internasional.

Selain itu, ingin menghambat China untuk melindungi pertumbuhan ekonomi dan politik AS, hingga Hegemoni AS bisa menantang Asia (Doktrin Wolfowitz). Terakhir, mendukung penuh Lobi Armagedon yang membuat AS berubah dari “pintu terbuka” dengan “Piagam Atlantik” kembali ke teori abad 19, yaitu “darah dan besi”. (kcm)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Spanyol Tarik Pasukan Dari Iraq
Tulisan selanjutnya Husni Mubarak: Warga Arab Makin Benci AS

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Artikel
3 Juni 2026 05:00
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat

Terbaru

  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?