Hidayatullah.com–Hasil pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) periode 2004-2008, Selasa (2/11), kemarin, diperkirakan sulit diprediksi. Para pengamat politik cenderung menolak meramalkan pemenangnya lantaran dukungan bagi keduanya relatif imbang. Masyarakat setempat juga masih berspekulasi tentang pemenang yang akan segera dilantik sebagai presiden AS, Januari mendatang. Hampir semua orang mengatakan persaingan antara George Walker Bush dan John Kerry sangat ketat.
Sejumlah media massa AS dan Eropa punya pandangan sendiri. Sebagaian yakin Kerry menang, tetapi sebagaian yakin, keduanya tak akan membawa perubahan apapun.
Harian Frankfurter Rundschau menulis, pandangan politik Eropa mungkin lebih sesuai dengan Kerry ketimbang Bush, meskipun Kerry akan berada di bawah tekanan yang lebih besar di dalam negeri untuk membuktikan kemampuannya. Di luar negeri, banyak yang hendak menguji kemampuan Kerry, para ayatullah di Iran , penguasa komunis di Korea Utara, para gerilyawan Iraq dan mungkin juga Usama bin Ladin. Hendaknya Eropa jangan terlalu lama berdiam diri. John Kerry akan merupakan peluang bagi politik internasional.
Koran Rhein-Neckar-Zeitung yang terbit di Heidelberg ikut berkomentar.Menurutnya, siapa pun yang akan dipilih oleh rakyat Amerika, hasilnya akan membawa dampak kepada semua. Bila Bush dipilih kembali maka semuanya akan tetap seperti sebelumnya. Tidak akan ada komitmen di luar bantuan teknologi dan humaniter. Sejauh itu pemilihannya kembali tidak terlalu merepotkan. Namun pergantian paradigma seperti yang diisyaratkan oleh Kerry , lambat atau cepat akan menuntut partisipasi yang lebih aktif , juga partisipasi militer , dan itu tidak hanya di Iraq.
Harian Perancis Le Figaro dalam tajuknya menulis, di Eropa , George W Bush demikian tidak populer dan menakutkan, sehingga sejak empat tahun belakangan ini Amerika dijauhi .
AS seperti dalam versi John Kerry juga bukan lagi Amerika yang diimpikan pada tahun 60-an, ketika seorang presiden lain dengan inisial yang sama JFK menjadi simbol modernitas. Perbaikan hubungan Eropa-AS yang tidak sehat itu, kiranya hanya mungkin dengan pemilihan presiden, apa pun hasilnya. Dan itu hanya bisa datang dari Eropa sendiri. Hendaknya peluang itu dimanfaatkan guna menyesuaikan gambaran tentang AS dengan realitas dewasa ini.
Harian Belgia De Standaard menganggap pemilihan presiden sebagai awal baru bagi dunia. Katanya, John Kerry, dengan mudah akan memenangkan pemilu di Eropa. Cuma, Eropa tidak boleh ikut memilih. Harian ini yakin, John Kerry bagi Amerika, bagi Eropa dan bagi dunia merupakan pilihan yang lebih baik. Dengan John Kerry, Eropa dapat mengharapkan kepemimpinan yang lebih sehat dan lebih seimbang.
Harian Spanyol El Mundo menulis, masyarakat dunia hanya menjadi penonton dalam pemilihan presiden di AS.
Bila rakyat Amerika memilih presiden baru, masyarakat lain di dunia hanya menjadi penonton. Padahal hasil pemilihannya juga menyangkut nasib seluruh masyarakat dunia. Seusai pemilihan presiden tidak akan ada perobahan yang dramatis dalam politik AS. John Kerry lebih mengutamakan multi-lateralisme ketimbang George Bush. Karena itu ia akan menang telak, bila masyarakat dunia dapat ikut memilih.
Harian Italia Il Messaggero dalam komentarnya mengulas sikap Eropa dalam pemilihan presiden di AS. Dikatakan, siapa pun yang menang , Kerry atau Bush tidak akan membawa perobahan politik di Irak atau pun Eropa. Kini para pendukung Bush punya slogan baru. Bila Kerry menang, demikian dikatakan, politiknya mungkin tidak banyak berbeda dengan Bush, namun dan inilah poin yang baru, ia akan menuntut lebih banyak dari Eropa. Kerry tidak akan mengerjakan sendiri pekerjaan kotor di Irak tanpa dukungan aktif dari Eropa, yakni yang menyangkut senjata dan pasukan. Hendaknya, negara-negara Eropa merasa bersyukur bahwa Bush yang telah banyak berjasa, tidak meminta partisipasi aktif dari Eropa. (dwwd/cha)