Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Pasukan Khusus Inggris SAS Membunuh Sipil Tak Bersenjata di Afghanistan

Ama Farah
Terakhir diupdate: 5 Juli 2017 09:50 9:50 am
Ama Farah
Dipublikasikan 5 Juli 2017 09:50
Bagikan
Pasukan Inggris dikerahkan untuk merebut Sangin dari Taliban Afghanistan.
Bagikan

Hidayatullah.com—Royal Military Police sedang menyelidiki tuduhan pasukan khusus Inggris membunuh sejumlah warga sipil tak bersenjata di Afghanistan, lapor BBC.

Seorang pria kepada BBC mengatakan bahwa empat orang anggota keluarganya dibunuh dalam serangan malam hari yang melibatkan SAS (Special Air Force, pasukan khusus dari Angkatan Darat Inggris) pada tahun 2011.

Sunday Times juga melaporkan perihal tuduhan-tuduhan pembunuhan lain oleh pasukan Inggris di Afghanistan.

Penyelidikan atas perilaku pasukan Kerajaan Inggris yang dikerahkan di Afghanistan dimulai sejak 2015.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Di tahun 2016, Kementerian Pertahanan mengatakan sekitar 600 pengaduan terkait pasukan Inggris di Afghanistan masuk ke mejanya. Kasus-kasus yang dilaporkan itu terjadi antara tahun 2005 sampai 2013.

Kemenhan Inggris mengatakan 90 persen dari kasus-kasus tersebut telah dituntaskan, sementara kurang dari 10 persen lainnya masih dalam penyelidikan oleh Royal Military Police dalam misi Operation Northmoor.

Orang yang berbicara kepada BBC itu mengatakan bahwa dirinya ditahan semalaman dalam kondisi mata tertutup dalam sebuah kamar.

“Pagi-pagi, mereka datang dan membuka mata saya dan mengatakan bahwa saya tidak boleh keluar kamar sampai mereka meninggalkan tempat itu. Ketika helikopter-helikopeter terbang meninggalkan daerah itu saya keluar dari kamar,” kata laki-laki yang tidak ingin disebutkan namanya itu.

“Begitu saya keluar kamar, saya melihat ayah, dua saudara laki-laki dan sepupu saya sudah ditembak mati oleh mereka,” imbuhnya.

BBC diberitahu bahwa serangan itu melibatkan pasukan khusus Inggris SAS dan sekarang kasusnya sedang diselidiki.

Chris Green, seorang bekas anggota intelijen AD Inggris yang pernah ditugaskan di Afghanistan, mengatakan bahwa dia dihalang-halangi ketika berusaha menyelidiki dugaan pelanggaran oleh anggota-anggota pasukan khusus itu.

“Militer Inggris, dan pasukan yang bekerja sama dengan saya, ditugaskan dengan sejumlah aturan yang sangat sangat ketat. Dan menurut penglihatan saya, sepertinya pasukan khusus itu tidak menerapkan aturan yang sama dengan cara yang sama,” kata Green.

“Pandangan saya tentang akuntabilitas mereka adalah, saya tidak melihatnya sama sekali,” imbuh Green, menegaskan bahwa pasukan khusus Inggris tidak memiliki akuntabilitas.

“Ketika saya mencari informasi dari mereka, tembok rahasia dipasang di depan saya dan saya tidak melihat ada alasan yang bagus kenapa informasi yang saya minta tidak diberikan dan mereka juga tidak bisa memberikan alasan yang memadai kenapa saya ditolak untuk mendapatkan informasi itu,” paparnya.

Politisi terkemuka dari Partai Buruh, Jeremy Corbyn, dan bekas jaksa agung Lord Macdonald, termasuk pihak-pihak yang menuntut agar dilakukan penyelidikan atas tuduhan-tuduhan pelanggaran yang dilakukan pasukan Inggris.

“Angkatan bersenjata kita memiliki reputasi kepatutan dan keberanian,” kata Corbyn.

“Jika kita tidak bertindak menangani tuduhan-tuduhan mengejutkan semacam itu, kita beresiko meremehkan reputasi tersebut, keamanan dalam negeri kita dan keamanan pasukan bersenjata yang ditugaskan di luar negeri,” imbuhnya.

Namun, salah satu bekas pimpinan AD Inggris, Jenderal Lord Richard Dannat, mengatakan seharusnya orang tidak cepat mengambil kesimpulan. Dia membantah ada hal-hal yang ditutup-tutupi oleh militer.

Patut diketahui, segudang tuduhan pelanggaran meluas yang dilakukan pasukan Inggris di Iraq diperlakukan sebagai informasi tertutup, rahasia, dan penyelidikan-penyelidikan atas kasus-kasus tersebut sekarang sudah dinyatakan ditutup.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Digitalisasi Penyiaran, Diharapkan Tak Malah Kukuhkan Dominasi Lembaga Penyiaran Swasta
Tulisan selanjutnya Menhan Fikri Isik: Turki Beli Sistem Pertahanan Rudal S-400 dari Rusia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Berita
15 Juli 2026 21:25
Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
Amerika Serikat Menjatuhkan Sanksi Baru Berkaitan Iran Menyusul Serangan di Selat Hormuz
Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik
Waketum MUI: Penulis Muslim Harus Jadi Penjaga Otoritas Ilmu di Era Digital

Terbaru

  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
  • Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
  • Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
  • MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
  • INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
  • Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
  • MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
  • Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
  • Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?