Hidayatullah.com–Satu jam sebelum gelombang pasang tsunami menyapu Thailand, staf Badan Meteorologi negeri itu sebenarnya sudah mengetahuinya. Perangkat deteksi mereka mengisyaratkan akan datang bencana tersebut.
Ironisnya, mereka justru takut melaporkan ancaman itu kepada pemerintah. Mereka takut “dianggap gila” sebagaimana yang dialami Smith enam dan sebelas tahun lalu.
Maka, isyarat itu diabaikan begitu saja. Staf badan tersebut justru mencemaskan posisi mereka andai isyarat tersebut ternyata salah. “Saya tahu, mereka (staf BMG) mengetahui ancaman itu. Namun, mereka takut memutuskannya. Sebab, jika keputusan tersebut salah, mereka yang akan menanggung akibatnya,” ujar Smith.
Beberapa staf BMG Thailand membenarkan keterangan Smith tadi. Mereka sudah mengetahui kemungkinan timbulnya tsunami satu jam sebelum ombak besar tersebut datang menghantam. Namun saat itu, mereka belum memperoleh gambaran seberapa besar gelombang yang akan menerpa.
Mereka juga enggan melaporkannya kepada pemerintah karena khawatir akan memicu kemarahan. Sebab, hal itu bisa berdampak buruk terhadap industri pariwisata Thailand. Mereka juga tidak ingin dicap gila dan mungkin dipecat sebagaimana dialami Smith.
Smith sendiri pernah memberikan peringatan itu pada 1993 ketika masih menjabat sebagai kepala BMG. Peringatan itu diberikannya setelah tsunami menyapu Papua Nugini dan menelan 2.000 lebih korban jiwa.
Pada saat itu, media setempat pun mengeksposnya besar-besaran. Timbul kepanikan secara nasional. Selama seminggu, masyarakat berbondong-bondong menuju area perbukitan di wilayah selatan Thailand.
Kepanikan tersebut berdampak buruk terhadap pelaku bisnis pariwisata Thailand saat itu. Smith pun dikritik habis-habisan. Apalagi, peringatannya tersebut ternyata tidak terbukti.
Lima tahun kemudian, dia menyampaikan peringatan serupa setelah terjadi gempa di wilayah barat daya Thailand. “Tapi, semua orang justru mengkritik saya karena dianggap mengganggu industri pariwisata. Banyak juga yang menuduh saya gila,” ujar Smith.
Buntutnya, dia malah dipecat. Tapi, Smith tetap yakin akan bencana tersebut. Peringatan itu diberikannya atas dasar pengalamannya selama 30 tahun berkutat dengan masalah meteorologi.
Selama bertahun-tahun, dia merasa tidak bisa hidup tenang dan terus dalam bayang-bayang akan munculnya bencana tadi. Dia merasa sedikit tenang karena peringatannya terbukti menjadi kenyataan. “Namun, saya tetap merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan nyawa ribuan orang,” katanya.
Kini, semua orang pun berpaling dan teringat kepada Smith. Bahkan, Perdana Menteri Thaksin Shinawatra pun menunjuknya sebagai kepala Badan Peringatan Bencana Nasional (NDWO).
Jabatan barunya itu mengantarkan Smith bertemu dengan ahli seismologi lokal maupun internasional untuk menciptakan sistem peringatan bahaya tsunami. “Saya mengusulkan agar Thailand menjadi negara pusat sistem tersebut. Namun, kita tidak bisa melakukannya sendiri karena ini membutuhkan banyak biaya. Kita butuh bantuan dari negara, seperti Jepang, AS, dan Australia,” tutur Smith.
Satu hal yang masih menjadi ganjalan di hatinya adalah kurang berperannya Pusat Peringatan Bahaya Tsunami Pasifik (PTWC) milik AS di Hawaii. Badan itu, menurut dia, sebenarnya bisa meminimalkan jumlah korban andai mau memberikan peringatan dini.
Dia yakin, saat itu PTWC pasti mengetahui bahwa tsunami bisa muncul setelah terjadi gempa di dasar laut. Namun, badan tersebut tidak memberikan peringatan apa pun. “Saya tidak marah karena mereka tidak memperingatkan Thailand. Namun, saya marah karena mereka tidak memperingatkan India, Bangladesh, atau Maladewa beberapa saat setelah tsunami menghantam Thailand,” lanjut lelaki berusia 68 tahun itu.
PTWC membenarkan bahwa mereka sudah mengetahui bahaya tersebut. Mereka pun berusaha memberi peringatan kepada negara-negara di tepi Samudera Hindia. Namun, mereka mengaku tidak mempunyai nomor telepon pejabat terkait di masing-masing negara.
Para pakar mengatakan, sebenarnya kerangka sistem peringatan tsunami di seluruh dunia sudah berada di tempat, tinggal hanya bagaimana meneruskan peringatan ke kawasan-kawasan sangat terasing dan yang paling rentan.
PBB mengatakan, banyak kawasan terasing yang tidak memiliki prasarana komunikasi untuk menerima peringatan itu secara dini. Dan repotnya, Indonesia adalah negara yang memiliki ribuak pulau-pulau kecil yang sangat minim peralatan dan sistem peringatan dini. (ap/afp/jp/cha)