Hidayatullah.com–Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Rodrigo Rato, memperingatkan bahwa kondisi keuangan AS yang memburuk serta naiknya suku bunga dan harga minyak ke rekor tertinggi merupakan ancaman terhadap pertumbuhan global. Akan tetapi, langkah untuk menyeimbangkan kembali perekonomian dunia tak boleh hanya dilakukan pemerintah AS saja, kata Rato dalam pidatonya di Universitas Georgetown di Washington menjelang pertemuan tahunan musim semi Bank Dunia dan IMF.
Secara khusus, Eropa dan Jepang harus berbuat lebih banyak untuk meningkatkan dukungan mereka pada sistem global guna mencegah pertumbuhan "tergantung dengan tak semestinya pada AS dan China semata," kata pimpinan lembaga keuangan multilateral asal Spanyol tersebut, sebagaimana dilaporkan AFP.
Dampak dari harga minyak yang mencapai rekor tinggi terhadap pertumbuhan global dan inflasi sebegitu jauh telah "dapat dikendalikan", katanya.
"Namun kenaikan tajam lebih jauh kemungkinan akan berdampak lebih serius: ke depan, pasokan dan permintaan paling tidak akan tetap seimbang, dengan prospek terbatas untuk meningkatkan kapasitas berlebih, pasar minyak akan tetap rentan terhadap berbagai kejutan."
"Negara-negara penghasil dan konsumen minyak perlu bekerja sama untuk menjamin stabilitas pasar minyak, termasuk melalui peningkatan penghematan energi, mengurangi hambatan terhadap investasi dan memperbaiki transparansi data."Defisit
Defisit perdagangan AS untuk bulan Februari melejit ke level US$61,04 miliar menyusul tingginya impor minyak mentah dan tekstil melampaui anggaran ekspor negeri itu.
Menurut Reuters membengkaknya defisit perdagangan AS memukul saham-saham unggulan di Wall Street karena kekhawatiran investor yang memegang eksposur dolar AS.
Membengkaknya defisit perdagangan AS ini dikhawatirkan menjadi pemicu terjun bebasnya dolar AS dan melejitkan inflasi agregat negeri Paman Sam itu.
Defisit perdagangan AS seperti dilaporkan telah naik 4,3% dibandingkan defisit perdagangan bulan Januari sebesar US$58,5 miliar.
Pembengkakan defisit perdagangan ini sempat mengundang kritik tajam dari Partai Demokrat AS karena kebijakan perdagangan bebas Presiden Bush ternyata tidak efektif berjalan.
"Paman Sam telah memainkan perannya di pasar dunia namun permainan ini dilakoni oleh para negosiator yang tidak kompeten, kesalahan nota kesepahaman perdagangan dengan mitra dagang AS menjadi penyebabnya," demikian dikatakan senator Byron Dorgan.
Loncatan terbesar defisit perdagangan AS dikontribusi oleh lonjakan defisit tekstil dan pakaian impor menyusul kebijakan pembatasan impor guna meningkatkan produksi manufaktur lokal. Terutama pembatasan produk tekstil Cina.(ant/bi/cha)