Hidayatullah.com–Sejak beberapa waktu terakhir ini beberapa penyanyi Arab mencoba menjajakan album mereka lewat video klip yang berlatang belakang sejumlah gadis dan wanita berjilbab.
Pertimbangnnya agar dapat diterima masyarakat seluas mungkin ketimbang membuat lagu video klip dengan latar belakang gadis yang memamerkan lekuk-lekuk halus tubuhnya dengan pakaian setengah telanjang seperti umumnya video klip di Barat.
Tapi maksud baik sebagian penyanyi dan produser video klip Arab tersebut kurang mendapat restu dari mayoritas warga Arab bahkan mendapat penolakan terutama di kalangan kaum Hawa.
Dalam jajak pendapat yang dilakukan TV swasta terkemuka Arab, Al-Arabiya yang berpusat di Dubai yang mencakup sejumlah warga di seluruh dunia Arab yang dimulai Jum`at (27/5) jumlah yang menolak mencapai 77 persen.
Hanya 22 persen yang menyatakan setuju dengan sejumlah pertimbangan dan catatan. Artinya bukan setuju secara mutlak dan satu persen yang enggan menjawab alias tidak menyatakan na`am (ya) atau la (tidak) dengan alasan tidak pernah menonton video klip.
Jajak pendapat tersebut dilakukan dengan tiga cara yakni lewat tayangan langsung yang dilakukan Jum`at sore, kemudian lewat telepon dan lewat situs Al-Arabiya yang hasilnya pada Sabtu (28/5) tidak mengalami perubahan alias 77 persen menolak.
Alasan utama mereka yang menolak yang sebagian besar (lebih 60 persen) dari kaum Hawa adalah jilbab adalah pakaian yang digunakan seorang Muslimah dalam rangka melaksanaan perintah syariat.
Artinya menggunakan pakaian penutup aurat wanita itu adalah dalam rangka beribadah sehingga tidak patut menjadi salah satu penghias video klip yang rata-rata lagunya tidak sejalan dengan syariat.
Bagi yang mengiyakan juga dua versi yakni pertama setuju secara mutlak ketimbang memamerkan aurat yang para gadis belia yang dapat mengundang syahwat pemirsa pria dewasa yang menyaksikannya.
Salah satu yang setuju dengan pendapat ini adalah artis papan atas Arab asal Suriah, Asalah Nesri yang dalam vedio klipnya selalu berpakaian rapi meskipun tidak memakai jilbab.
Versi kedua adalah setuju asalkan lirik lagunya sesuai. "Tidak ada artinya latar belakang gadis berjilbab kalau lirik lagunya mengajak ke kemaksiatan atau berhura-hura yang terlarang agama," kata sejumlah responden yang sempat diwawancarai langsung.
Kalau demikian halnya, inisiatif sejumlah penyanyi dan produsen Arab untuk mengganti latar belakang video klip dari gadis pamer aurat ke gadis berjilbab harus mempertimbangkan hasil jajak pendapat itu atau maju terus sesuai hasil di pasaran. (ant/mi)