Hidayatullah.com–Innalillahi Wa Inna Illaihi Rojiun. Indonesia kembali kehilangan salah satu tokoh gerakan Islam. Ustad Rahmat Adbullah, meninggal dunia pada hari Selasa kemarin (14/06) sekitar jam 19.30 di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih.
Seperti dikutip situs www.pk-sejahtera.org mantan Ketua Majelis Syuro DPP PKS itu meninggal dunia dikarenakan penyakit stroke. "Beliau terkena stroke ketika wudhu untuk mengerjakan sholat Magrib di Kantor DPP PKS yang berletak di Gedung Kindo, Duren Tiga Jakarta, " kutip situs itu.
Ketika itu Rahmat Abdullah dan rekan-rekan DPP PKS sedang mengadakan Rapat Rutin. Allah memanggil menghadap keharibaan-Nya justru ketika beliau sampai di rumah sakit tersebut.
Syaikhut Tarbiyah
Almarhum dikenal sosok pejuang dakwah yang sangat aktif kaya wawasan keilmuan. Pria kelahiran Jakarta, 3 Juli 1953 memperoleh pendidikan formalnya hanya sampai madrasah aliyah plus setahun kuliah di LIPIA Jakarta.
Tapi karena kegigihannya mencari ilmu dari beberapa halaqah kiai dan kelahapannya membaca kitab, banyak orang mengakui kapasitas keilmuannya tak kalah dari rekan-rekannya yang bergelar doktor.
Sejak tahun 1985 ia sudah sering berkunjung ke luar negeri dan keliling Indonesia, memenuhi undangan seminar, mudzakarah du’at, pelatihan kader, tabligh, dan sebagainya. Meski begitu ia tetap tawadhu dan menolak disebut otodidak. "Allah-didak. Allah yang mendidik dan mengajarkan kita," begitu beliau mengistilahkan.
Di kalangan aktivis dakwah dan harakah (pergerakan), khususnya gerakan dakwah kampus, era ’80-an dan ’90-an, nama Ketua Yayasan Iqro’ Bekasi ini sungguh tidak asing. Beliau dikenal sebagai salah satu tokoh penting penggerak aktivis Tarbiyah –gerakan dakwah dengan manhaj Al-Ikhwan al-Muslimun di Mesir– yang kini juga melahirkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Menurut banyak pengamat politik, partai Islam termuda ini merupakan "bintang" nya partai di Pemulu 2004.
Karenanya, almarhum sering disebut-sebut sebagai "Syaikhut Tarbiyah". Namun sebutan itu selalu ditampiknya dengan rendah hati. "Adik-adik mau nyindir bahwa saya sudah kakek-kakek ya? Syaikh itu kan dalam bahasa Arab artinya kakek," ujarnya saat wawancara dengan Hidayatullah.com beberapa usai Seminar Nasional "Tarbiyah di Era Baru" di Masjid UI, Kampus UI Depok beberapa tahun lalu.
Menurut humas PKS, Ferry Kuntoro pada kantor berita Antara, sebelum dibawa ke RS Islam Jakarta, mantan Ketua Majelis Pertimbangan Partai (MPP) PKS itu sempat diperiksa dokter dan tekanan darahnya mencapai angka 220.
Suami Sumarni HM Umar ini meninggalkan 1 orang istri, 3 orang anak laki-laki, dan 4 orang anak perempuan. (cha)