Jum’at, 23 September 2005
Hidayatullah.com–Pernyataan ini disampaikan dalam parade militer menandai dimulainya “Minggu Pertahanan Suez”, peringatan berakhirnya perang Irak-Iran tahun 1980 yang dilangsungkan di tengah-tengah meningkatnya tekanan negara-negara Barat atas program nuklir Iran, Kamis (22/9).
Parade itu melibatkan ribuan pasukan dan sejumlah perlengkapan senjata termasuk enam rudal balistik Shahab-3 yang ditutupi spanduk bertuliskan “Mati AS”, “Kami akan hancurkan AS” dan “Israel harus dihancurkan dari muka bumi.” “Musuh-musuh kita mengetahui bahwa kita sangat serius mempertahankan keamanan kita,” ujar Ahmadinejad, yang juga veteran perang Irak-Iran selama delapan tahun.
“Kita menginginkan perdamaian, kestabilan, keadilan dan persamaan hak dalam hubungan internasional dengan negara-negara lain. Kita tidak akan melakukan apa pun atas kepentingan mereka,” ujarnya. “Kita menginginkan Teluk Persia sebagi teluk yang bersahabat dan setara,” ujar Ahmadinejad dalam pidatonya kepada para pejabat dan warga terkemuka dalam parade yang diselenggarakan di selatan ibukota dekat makam pemimpin revolusi Iran Ayatollah Ruhollah Khomeini yang juga disiarkan stasiun televisi negara.
Namun ia memperingatkan “jika seseorang ingin kembali menguji apa yang telah mereka uji sebelumnya, bara api negara Iran akan sangat menghancurkan dan dashyat.” “Dengan mengandalkan negara dan tentara kita, kita akan membuat para penyerbu akan menyesali perbuatannya,” peringati Ahmadinejad yang meminta tentara Iran “meningkatkan sistem kesiapan pertahanan” dan menyerukan perlunya “ekspansi industri pertahanan dan pemanfaatan teknologi terbaru.”
Parade yang diselenggarakan oleh pasukan elit Garda Revolusi itu bertepatan dengan drama diplomatik di Badan Energi Atom Internasional (IAEA) di Wina dimana AS dan negara-negara Uni Eropa mendesak agar masalah Iran dibawa ke Dewan Keamanan PBB.
Ketegangan meningkat pada Agustus lalu setelah Iran menolak tuntutan Inggris, Prancis dan Jerman membatalkan program pengayaan sebagai imbalan diberikannya intensif. Iran juga mengakhiri pembekuan pengayaan yang terkait dengan konversi uranium yang merupakan langkah pertama pengayaan uranium yang bisa menjadi bahan bakar reaktor nuklir atau material untuk membuat bom atom.
Mengendor
Sementara itu Pemerintah George W Bush di AS menunda upaya menekan Iran untuk menghentikan program nuklirnya melalui sanksi PBB. Alasan Bush karena AS kekurangan dukungan untuk menghukum Teheran atas program nuklirnya. Uni Eropa (EU) juga memutuskan mengurangi tekanan terhadap Teheran untuk isu ini.
Mayoritas badan pengamat nuklir PBB siap menyerahkan masalah tersebut ke Dewan Keamanan (DK) PBB tapi resolusi AS harus mendapatkan kekuatan veto Rusia dan China yang menentang sanksi terhadap Iran. Menurut Kemenlu Rusia Rabu (21/9), menyerahkan isu ini ke DK tidak akan mencapai solusi bagi problema Iran melalui cara diplomatis dan politis.
Para pejabat AS menjelaskan tidak ada negara mendukung Iran untuk menghasilkan senjata nuklir tapi AS tak mampu mencapai persetujuan umum untuk mencoba menghukum Iran dan mendorong Teheran kembali ke meja perundingan dengan Uni Eropa. “Tujuan kami adalah membangun kemungkinan konsensus lebih luas,” kata jubir Deplu AS Adam Ereli.
Kendati begitu ancaman terhadap Iran belum ditarik dan masih menjadi pertanyaan untuk kemungkinan sanksi terhadap Teheran. Dua minggu lalu, Menlu AS Condolezza Rice mendesak Rusia, China, India dan beberapa negara lain untuk bergabung dalam “pesan bersatu” bagi Iran agar negara Islam tersebut menghentikan program nuklirnya. (ap/afp/sib)