Hidayatullah.com– Gerah dengan pembangkangan yang dilakukan oleh pihak Iran, pemerintahan Amerika Serikat (AS) pemerintahan Presiden George Walker Bush siap melakukan eskalasi kekuatan untuk menyerang Iran dengan mengirimkan mata-mata ke negara itu.
Hasil pengamatan dari mata-mata tersebut, terlihat bendera Iran di luar pusat pengembangan nuklir di Busher, demikian hasil laporan jurnalis Seymour Hersh. Gedung Putih, CIA, dan Departemen Luar Negeri AS menolak memberikan komentar atas laporan yang dimuat di Majalah The New Yorker.
Hersh mengatakan kepada CNN dalam acara "Late Edition with Wolf Blitzer" bahwa Kongres telah menyetujui penggunaan dana sebesar 400 juta dolar AS untuk melakukan hal tersebut yang melibatkan pasukan khusus AS dan orang-orang Iran yang tidak menyukai pemerintahan berkuasa.
Kata Hersh, Bush dan wakil presidennya, Dick Cheney menolak penemuan dinas intelijen AS bahwa Iran telah menghentikan secara sembunyi-sembunyi usaha untuk mengembangkan bom nuklir dan tidak ingin Iran berada di tempat tersebut.
"Mereka percaya bahwa misi mereka adalah untuk memastikan bahwa sebelum mereka keluar dari kantor mereka tahun depan, tindakan utama adalah melakukan penyerangan atau menghentikan program pembuatan senjata nuklir negara tersebut," kata Hersh.
Artikel yang ditulis berjudul "Persiapan di Medan Perang," adalah seri artikel terbaru yang menyalahkan pemerintahan Bush dan mencurigai bahwa Bush sedang melakukan persiapan perang dengan Iran.
Informasi yang berhasil dihimpun Hersh didapatnya dari mantan pejabat militer, sejumlah pejabat militer aktif, dan anggota Kongres. "Seperti biasa, untuk hal-hal seperti itu, kami menolak memberikan komentar," kata juru bicara Gedung Putih, Gordon Johndroe.
Sementara, CIA setali tiga uang. Lembaga ini juga menolak memberikan komentarnya. "CIA, sesuai aturan tidak akan memberikan komentar apapun yang dituduhkan terkait dengan operasi," demikian disampaikan juru bicara CIA, Paul Gimigliano.
Ryan Crocker, Duta Besar (Dubes) AS di Bagdad juga menolak laporan bahwa basis operasi akan dilakukan dari Irak, di mana sejumlah komandan AS yang bertugas di sana menduga bahwa yang melakukan penyerangan terhadap mereka adalah para militan yang didukung oleh Iran.
"Saya dapat mengatakan secara tegas bahwa angkatan darat AS tidak akan melakukan operasi di manapun, di selatan atau apapun yang dikatakan oleh orang-orang," ujar Crocker. Hersh mengatakan bahwa bantuan akan didatangkan dari Afganistan yang juga berbatasan dengan Iran.
Siapkan Kuburan Musuh
Sementara itu, juru bicara parlemen Iran, Ali Larijani, memperingatkan bahwa negara-negara yang melawan mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal. Dalam sebuah komentar yang muncul di laporan kantor berita Mehr, seorang jenderal di Iran mengatakan pihaknya telah menggali sekitar 320 ribu kuburan bagi tentara yang berusaha masuk ke negara mereka.
"Berdasarkan hukum perang, sangat penting bagi kami untuk menyiapkan kuburan bagi tentara yang menyerang kami," kata Mayor Jenderal Mirfaisal Baqerzadeh, seorang pejabat militer senior yang memiliki tugas untuk penyerangan. [tti/hidayatullah.com]