Hidayatullah.com–Seteleh sukses dengan mengadakan multaqo nushroh (pertemuan barisan pembela), Universitas Al-Iman kembali membuat gebrakan kedua yang dinamakan "Multaqo Fadilah wa nushrotul amr bilma'ruf wan nahy 'anil munkar". (Muktamar Fadhilah dalam membela amar makruf nahi mungkar).
Gebrakan kedua ini melahirkan “pasukan” Amar Ma’ruf Nahi Mungkar di Shan’aa, semacam Front Pembela Islam (FPI).
Acara pembentukan ini dihadiri oleh ulama-ulama yang tersebar di seluruh pelosok Yaman.
Dalam pertemuan itu, para ulama mengungkap fenomena menghawatirkan yang membahayakan generasi muda Muslim di Yaman. Diantara fenomena yang menurut mereka mulai nampak adalah; gencarnya krestenisasi oleh orang asing melalui organisasi atau LSM tanpa pengawasan pemerintah, seruan merubah undang-undang dan sumber hukum berakar dari syariah dengan mengganti undang-undang Barat, tathowul (melampaui batas) sebagian media massa dalam pembahasan ketuhanan serta pelecehan terhadap faroidh (hal-hal wajib), serta ekspos berlebihan terhadap aurat wanita.
Sebagaimana diketahui, baru-baru ini diadakan expo pakaian wanita, diantaranya dilakukan lebih dari 15 remaja putri dengan pakaian malam saat acara pernikahan di Hadiqoh Sab'iin (Taman Sab'iin) di ibukota Sana'a, yang dihadiri oleh banyak laki-laki ajnabi (non mahram).
Juga beberapa kegiatan mendatangkan penyanyi dan penari wanita asal Libanon, keikutsertaan remaja Muslimah dalam festival pria, serta berkumpulnya mereka dalam acara yang disebut riyadhoh nisaa`iah (olahraga putri).
Selain itu, yang juga disoroti para ulama adalah pembukaan cafe joget, tempat hiburan malam, dan channel-channel amoral di beberapa hotel. Senin, 7 Juli tahun 2006, diselenggarakan festival Ad-Daan di Hadramaut. Juga saat pembukaan Arab Cup XI di ibukota sana'a. Acara ini sempat menjadi kontroversi.
Yang tak kalah penting adalah fenomena ikhtilath di sebagian sekolah dan universitas di Yaman, serta di lembaga-lembaga umum.
Hari Selasa (15/7) kemarin, “pasukan” Amar Ma’ruf Nahi Mungkar ini berkonfoi merazia tempat-tempat pelacuran dan mencegah bertambahnya kegiatan kristenisasi.
Pimpinan “pasukan”, Abdul Majid Az-Zandani, menyatakan, “Kami turun ke lapangan untuk merazia tempat-tempat pelacuran dan menghentikan gerakan kristenisasi lantaran pemerintah sudah tidak sanggup lagi untuk menindak tegas perbuatan tersebut,” katanya.
Dalam mensikapi hal-hal tersebut, lebih dari 91 orang menandatangani seruan untuk "nushroh amr bil ma'ruf wa nahi munkar" (membela amar ma'ruf wa nahi mungkar), serta mengeluarkan fatwa dan seruan untuk membentuk barisan membela amar ma'ruf nahi munkar.
Sebelumnya, “pasukan” “pasukan” Amar Ma’ruf Nahi Mungkar sukses memberi reaksi pada kasus pelecehan yang dilakukan oleh beberapa media massa di Denmark. [Mulyadi Luthfy dari Yaman/hidayatullah.com]