Hidayatullah.com–Jumat (12/6) Iran menggelar pemilihan presiden. Pilpres ini ke-10 kalinya, sejak masa berdirinya Republik Islam Iran pada 1979 silam.
Perhatian publik internasional banyak teralihkan terhadap hajatan pemilihan orang nomor satu di negeri Persia itu. Pertarungan Pilpes kali ini diprediksikan oleh banyak pengamat akan berjalan dengan sangat sengit.
Para kandidat presiden Iran, masing-masing Mahmoud Ahmadinejad, yang masih menjabat Presiden Iran kini, Mohsen Rezai, mantan pucuk pimpinan Garda Revolusi Iran, Mehdi Karoubi, tokoh utama Parlemen Iran, dan Mir Hossein Mousavi, mantan PM Iran.
Dua kubu utama kekuatan politik Iran, yaitu kubu konservatif (muhafizh) dan reformis (ishlahi), kembali menjadi dua poros utama pada pertarungan Pilpres ini. Namun antara kedua kubu mengalami semacam “keterbelahan internal”. Ahmadinejad dan Rezai adalah dua kandidat dari kubu konservatif, sementara Karoubi dan Mousavi dari kubu reformis.
Dari keempat calon, yang diprediksikan akan mendulang suara terbanyak dan bersaing ketat adalah Ahmadinejad dan Mousavi. Beberapa lembaga survei melansir, Ahmadinejad dan Mousavi akan mendapatkan presentasi suara tertinggi, meski perbedaan perolehan suara antara keduanya akan mencolok.
Dalam sebuah survei melalui telepon atas 1001 orang warga Iran yang diadakan bulan lalu, misalnya, didapati 34% warga Iran berencana memberi suara untuk Presiden Ahmadinejad. Saingan utamanya, reformis Mir Hussein Mousavi mendapat 14 persen dukungan. Sementara 27 persen orang belum menentukan pilihan.
Isu Penting
Terlepas dari siapa yang akan menjadi presiden, setidaknya terdapat beberapa isu penting yang akan menjadi agenda, sekaligus garapan penting presiden mendatang. Isu tersebut dapat dipetakan ke dalam masalah politik luar negeri Iran, utamanya hubungan Iran dengan dunia Arab, Barat, dan Israel yang kerap bersitegang, serta program nuklir Iran.
Saat ini, Iran memiliki hubungan yang kurang begitu akrab dengan negara-negara Arab, utamanya yang pro-Barat seperti Saudi Arabia, Mesir, Uni Emirat Arab, dan Maroko. Kekurangakraban tersebut berpangkal pada beberapa aspek, semisal perbedaan sikap politis terhadap Barat, “perang” retorika, pengaruh politis dan ideologis Iran yang kuat menancap di kawasan Timur Tengah, batas wilayah, serta perbedaan madzhab Islam (Sunni vis a vis Syiah) dan ras (Arab vis a vis Persia).
Selain pola hubungan yang kurang mesra dengan beberapa Negara Arab, Iran juga memiliki “seteru utama” di kawasan, yaitu Israel. Tensi ketegangan antara Iran-Israel kian menaik tinggi paska Ahmadinejad memegang tampuk kepemimpinan Iran pada 2005 silam, dan kerap mengeluarkan statemen anti-Israel, semisal Israel harus dihapus dari peta karena kejahatan kemanusiaan yang dilakukannya hingga Holocaust adalah mitos. Perang retorika pun tak pelak acap mewarnai hubungan antara kedua belah pihak. Suhu tersebut juga kian terkompori oleh isu program nuklir dan Palestina.
Sejak suksesnya gerakan revolusi Islam Iran di tahun 1979 silam yang menggulingkan rezim imperium Syah Iran (Pahlevi) yang menjadi sekutu terdekat Amerika dan Israel, Iran memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Amerika dan beberapa negara Barat.
Hubungan buruk tersebut masih belum pulih hingga saat ini, bahkan kembali memanas paska bergulirnya agenda pengembangan nuklir Iran di masa kepemimpinan Ahmadinejad, retorika “segi tiga setan” ala Presiden Amerika Bush, dan isu penyerbuan Amerika ke Iran paska Afghanistan dan Irak.
Agenda pengembangan program nuklir dalam negeri, yang diklaim Iran sebagai proyek sipil bertujuan damai, dapat dikatakan sebagai salah satu kunci utama dalam konstelasi hubungan Iran dengan Arab, Israel, dan Barat. Pasalnya, ketiga poros tersebut menganggap program nuklir yang tengah dikembangkan Iran bukan untuk tujuan damai, melainkan untuk senjata pemusnah masal.
Selain beberapa isu panas luar negeri, terdapat pula isu-isu dalam negeri Iran yang tak kalah penting yang akan menjadi garapan Presiden Iran mendatang, semisal teknologi, pendidikan, HAM, ekonomi, dan utamanya kesejahteraan rakyat. [atjeng, berbagai sumber/hidayatullah.com]