Hidayatullah.com–Sekitar 250 orang wanita pengusaha besar di Saudi membentuk perkumpulan amal pertama yang akan membantu para wanita Saudi di wilayah-wilayah pedesaan. Dana untuk membiayai kegiatannya berasal dari pebisnis terkemuka yang tertarik untuk mengikuti kegiatan amal kemanusiaan.
Acara peresmiannya Ahad (6/9) di hotel Le Meridien Jeddah, dihadiri tidak kurang dari 250 anggota yang merupakan wanita-wanita dari kalangan elit, pelaku bisnis dan bankir.
“Kami berusaha untuk meningkatkan pelayanan sosial dan amal di wilayah terpencil, dengan mendukung para wanita pengusaha berdasarkan program dan rencana yang dibuat oleh asosiasi,” kata Muhajt Abdulkarim, koordinator eksekutif perkumpulan itu.
Ia juga menambahkan bahwa para wanita pebisnis itu sedang merancang lebih banyak lagi program yang disesuaikan dengan tujuan dan visi mereka. Dan sekarang proses itu sedang dalam tahap memenuhi persyaratan hukum yang harus dilengkapi di lembaga yang berwenang.
Aziza Mansour, pemilik Aziza Mansour Company dan pendiri perkumpulan wanita pertama di sektor real estate, menyatakan kegembiraan dan harapannya untuk kesuksesan acara tersebut.
“Kami sedang mempelajari pembangunan dan perkembangan yang terjadi di Arab Saudi dalam semua sektor, khususnya sektor konstruksi dan real estate,” katanya menambahkan.
“Kita harus berupaya meningkatkan peran serta sektor swasta dalam pembangunan ekonomi nasional dan pembukaan wilayah-wilayah untuk penanaman modal asing dalam berbagai bidang ekonomi, termasuk dalam pembangunan dan investasi di sektor properti,” papar Aziza Mansour lebih lanjut
Dr. Aisha Natto, seorang wanita pebisnis asal Arab Saudi, menyajikan sebuah makalah mengenai keuntungan dan kerugian.
“Saya ingin menekankan pentingnya dukungan pengacara untuk setiap kesepakatan bisnis,” katanya.
Ia juga menekankan perlunya menganekaragamkan sumber penghasilan dan tidak bergantung pada satu sumber saja. Dr Natto juga menggarisbawahi masalah pentingnya pengembalian modal usaha dengan menyoroti peran institusi investasi yang terintegrasi dan bukan keputusan pribadi.
Disarankan pula oleh Dr. Natto agar dilakukan konsultasi dengan pakar-pakar teknis dan ekonomi serta menahan pendapat pribadi, sebelum seorang pengusaha memutuskan untuk menandatangai sebuah kontrak.
Sementara itu bankir wanita menyerukan agar wanita pengusaha meningkatkan partisipasinya dalam investasi, mengingat investasi di lingkungan kerajaan itu merupakan sektor yang sangat menarik. [di/sg/hidayatullah.com]




