Hidayatullah.com–Hari Ahad (14/3) Presiden Bosnia Haris Silajdzic memberikan penjelasan kepada para pemimpin Arab Saudi mengenai ketegangan politik yang meningkat di Bosnia, termasuk tentang penangkapan mantan Presiden Ejub Ganic di London awal Maret ini.
Pembicaraan antara Silajdzic dan pemimpin Saudi mencakup banyak hal tentang masalah internasional, dengan penekanan pada hubungan kedua negara dan perlunya peningkatan investasi Saudi di Bosnia.
Dalam kunjungan satu harinya ke Saudi, Silajdzic bertemu dengan Raja Abdullah dan Pangeran Mahkota Sultan sebagai PM, Menteri Pertahanan dan Penerbangan di Istana Al-Yamamah.
Ia juga diundang oleh Gubernur Riyadh Pangeran Salman, yang telah berperan memberikan tambahan bantuan kepada Bosnia.
Menteri Luar Negeri Pangeran Al-Faisal yang menemuinya secara terpisah, membicarakan hubungan bilateral, termasuk tentang penangkapan Ejub Ganic sebagai penjahat perang. Demikian dijelaskan oleh Dubes Bosnia Razim Cholich.
Ganic ditahan di Bandara Heathrow atas nama Serbia pada 1 Maret, yang kemudian dibebaskan dengan uang jaminan Kamis lalu.
Menurut laporan yang ada, Silajdzic mengkritik pemerintah Inggris secara terbuka, karena sengaja memperlakukan Ganic secara tidak baik pada saat ditahan.
Ia bahkan sengaja terbang ke London untuk menunjukkan dukungan kepada pendahulunya itu, sebelum ke Riyadh. Selama di London ia bertemu dengan Menlu Inggris David Miliband. Namun tidak jelas, apakah Ganic akan direpatriasi ke Bosnia atau diekstradisi ke tempat lain.
Dikabarkan, anggota kepresidenan Serbia Nebojsa Radmanovic mengancam akan mundur dari pemerintahan, sebagai protes atas dukungan Bosnia terhadap Ganic.
Selain membicarakan hubungan bilateral, Silajdzic bertemu dengan Yusuf Al-Bassam, pimpinan Saudi Fund for Development (SFD) yang memberikan bantuan kepada Bosnia berupa pembangunan berbagai macam proyek.
Silajdzic juga mengundang investor Saudi untuk mengikuti ‘Sarajevo Business Forum 2010’ yang akan digelar pada 5-6 April. Forum itu rencananya juga akan dihadiri oleh PM Turki Recep Tayyib Erdogan, mantan PM Malaysia Mahathir Muhammad, dan Presiden IDB Ahmad Muhammad Ali.
Saudi menjadi negara donor terbesar bagi Bosnia. Riyadh memberkan dukungan finansial untuk perbaikan dan pembangunan sejumlah masjid, sekolah, dan rumah sakit.
Lebih dari 1.200 masjid rusak parah selama perang tahun 1992-1996. Penghancuran masjid-masjid itu adalah bagian dari rencana Serbia dan sekutunya untuk menghilangkan keragaman dalam budaya dan masyarakat Bosnia. [di/an/hidayatullah.com]