Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Para Pengamat Yakin AS akan Awet di Iraq

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 23 Agustus 2010 05:08
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Meskipun Amerika Serikat telah menarik pasukan tempurnya dari Iraq, banyak pengamat menilai situasi keamanan yang rentan dan kebuntuan politik yang berkepanjangan membuat kehadiran Paman Sam di negeri 1001 akan bertahan lama.

AS memulai serangan darat ke Iraq pada Jumat malam tanggal 21 Maret 2003, ketika Unit Ekspedisi Marinir ke-15 melancarkan serangan ke pelabuhan Umm Qasr di selatan Iraq.

Setelah tujuh tahun menimbulkan kekacauan di Iraq, Kamis malam lalu (19/8) kendaraan berat militer dari unit tempur AS yang ‘terakhir’ bergerak menuju Kuwait saat gelap gulita, karena khawatir kelompok-kelompok perlawanan akan mempersulit penarikan diri mereka dari Iraq.

Penarikan pasukan tersebut merupakan salah satu pemenuhan janji kampanye Obama dan sejalan dengan keinginan AS untuk fokus pada perang di Afghanistan.

Dex Torricke-Barton, pakar masalah keamanan internasional dan PBB, kepada Al-Arabiya (22/8) mengatakan bahwa “keterlibatan AS di Iraq akan terus berlangsung dan kehadiran 50.000 pelatih militer di negara itu tidak diragukan lagi memungkinkan AS untuk terus melakukan operasi kontra-terorisme di sana, sekaligus melanggengkan kekuatannya di Baghdad.”

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Pensiunan tentara AS Kolonel Andrew Berdy dalam sebuah artikel di majalah Foreign Policy menggambarkan rencana “penarikan seluruh pasukan tempur dari Iraq” sebagai sebuah “mitos”. Dia berkata, “Misi sampingan dari sisa pasukan kita di sana dimaksudkan untuk melakukan operasi tempur, baik dalam mempertahankan diri mereka sendiri maupun mendukung pasukan Iraq jika diminta.”

Sejauh ini sejumlah media AS membandingkan kehadiran 50.000 tentara AS di Iraq dengan pasukan AS yang masih terus berada di Jerman dan Jepang seusai Perang Dunia II.

Menteri Pertahanan AS, Robert Gates, bahkan telah memberikan sinyal kemungkinan perpanjangan kehadiran pasukan AS di Iraq pasca Juli 2011, ketika seluruh pasukan mereka harus sudah ditarik keluar, seperti yang tercantum dalam Status of Forces Agreement (SFA) antara AS dan Iraq yang ditandatangani oleh pemerintahan Bush.

“Jika sebuah pemerintahan baru terbentuk di sana dan mereka ingin melakukan pembicaraan mengenai (keadaan) setelah 2011, jelas kami terbuka untuk mendiskusikannya,” ujar Gates.

Patricia DeGennaro dari World Policy Institute kepada Al-Arabiya mengatakan, “Jika Iraq memutuskan untuk mengubah perjanjian tersebut, saya yakin AS akan setuju. Dan saya tidak terkejut sama sekali jika hal itu terjadi dan militer (AS) terus memberikan bantuan hingga beberapa tahun ke depan.”

Tidak diragukan lagi AS sangat khawatir meninggalkan Iraq, karena ketidakhadirannya di sana bisa dimanfaatkan oleh berbagai kelompok perlawanan. Dan negara tetangga seperti Suriah dan Iran bisa jadi memanfaatkan panarikan penuh tentara AS dari negara tersebut, untuk mempengaruhi politik dan kedaulatan Iraq.

Jika AS benar-benar menarik seluruh pasukannya, “sangat mungkin Iraq akan menjadi bola sepak geopolitik yang dipermainkan negara sekitarnya, sebagaimana Libanon ketika perang sipil tahun 1980an,” kata Torricke-Barton.

“AS akan berusaha mengamankan kepentingannya di negara itu dan sekitarnya, meskipun kehadiran militernya berkurang di sana.”

Para kritikus menilai pemerintah Obama tidak memiliki kemauan untuk mendorong adanya solusi atas kemandegan negosiasi pembentukan pemerintahan baru di Iraq, lima bulan setelah pemilu parlemen dilaksanakan pada Maret 2010.

“Apa yang mengejutkan dari pemerintahan Obama atas pendekatannya yang sekarang atas Iraq adalah bukan keberpihakannya pada salah satu partai, yaitu partainya Allawi. Melainkan kurangnya upaya untuk mengusahakan munculnya solusi, sesuatu yang paling dicermati oleh politisi dari seluruh partai,” tulis Joost Hiltermann, wakil direktur Middle East and North Africa Program di International Crisis Group dalam New York Review of Books.

Status of Forces Agreement yang ditandatangani George W.Bush di akhir jabatannya sebagai presiden dengan pemerintahan PM Nouri Al-Maliki dimaksudkan untuk memperkuat Iraq “dalam orbit regional pro-AS,” tambah Hiltermann.

“Satu yang paling sering orang dengar dikeluhkan dan dikhawatirkan politisi Baghdad adalah pemerintahan Obama hanya melakukan sedikit langkah untuk mengimplemantasikan SFA.” Demikian Hiltermann.[di/arb/hidayatullah.com]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Amerika Serikatiraqold migrateperang
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Rusia Bantu Iran Bangun Reaktor Nuklir
Tulisan selanjutnya Ismail Haniyah Iftar Bersama Keluarga Sederhana

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha

Berita
1 Juni 2026 10:40
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah

Terbaru

  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?