Hidayatullah.com–Krisis Libya adalah urusan dalam negara Arab dan kekuatan-kekuatan asing harus menahan diri dari intervensi, kata Menlu Iraq dalam pertemuan Liga Arab yang telah membekukan keanggotaan Libya untuk sementara waktu.
Menlu Ira Hoshiyar Zebari dalam pidato pembukaan di hadapan para menteri luar negeri Arab di Kairo, Rabu (2/3), mengatakan bahwa kepemimpinan Libya harus mengambil keputusan berani untuk menghentikan kekerasan dan menghormati hak-hak rakyat.
“Kami berharap rakyat Libya bisa mengatasi keadaan sulit ini,” katanya.
Negara-negara Arab, kata Zebari, telah menegaskan bahwa mereka “tidak ingin ada intervensi asing” di Libya.
Kekuatan negara-negara Barat sekarang sedang berunding tentang kemungkinan menerapkan zona larangan terbang bagi Libya, dalam rangka ikut menekan rezim Qadhafi.
Menurut Menteri Luar Negeri Oman, yang juga diguncang aksi protes, pertemuan Liga Arab hari Rabu itu merupakan yang pertama dari “kebangkitan kembali Arab baru”. Berbicara tentang bangsa Arab, Youssef bin Alawi bin Abdullah mengatakan “boleh ada orang lain yang mencampuri urusannya.”
Sekjen Liga Arab Amr Moussa tidak menyinggung maslah intervensi asing dalam pidatonya. Dia hanya mengatakan bahwa rakyat Libya saat ini menderita karena mengalami kekerasan karena menuntut kebebasan, sebuah kondisi yang tidak bisa diterima.
Konferensi Tingkat Tinggi yang dijadwalkan digelar bulan ini di Baghdad, ditunda hingga akhir Mei karena situasi di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara masih panas.*




