Hidayatullah.com–Beberapa bulan setelah kaum perempuan Arab Saudi bersatu menentang larangan mengemudi bagi perempuan, kini mereka – terutama yang sudah bersuami – kembali menggelar solidaritas bersama. Kali ini mereka beramai-ramai menolak rencana pemerintah untuk mendatangkan pembantu rumah tangga (PRT) asal Maroko. Apa pasal? Ternyata, kaum perempuan negara Semenanjung Arab itu khawatir dengan kecantikan perempuan Maroko, takut suami mereka tergoda!
Arab Saudi, kini memang tengah mencari alternatif sumber tenaga PRT, setelah pemerintah negara tersebut menghentikan pasokan PRT asal Indonesia beberapa bulan lalu dan menghentikan pasokan PRT dari Filipina.
Nah, setelah ditimbang-timbang, pemerintah melihat peluang bagus mencari sumber tenaga PRT pengganti ada di Maroko, negara Afrika Utara yang perekonomiannya jauh di bawah Arab Saudi yang memiliki angka pencari kerja yang tinggi.
Kelebihan lain pasti ada, namun tentu pandangan umum bahwa perempuan Maroko cantik-cantik bukanlah termasuk hal yang dipertimbangkan.
Namun, justru soal pandangan umum itu yang membuat perempuan Arab Saudi gerah.
Sehingga gerakan penolakan terhadap PRT dari Maroko pun digalang. Bahkan, berbeda dengan demonstrasi menentang larangan mengemudi bagi perempuan yang berjalan tersendat-sendat, gerakan menolak PRT dari Maroko sangat cepat menjadi gerakan besar dan luas.
Seperti dilaporkan emirates247.com, Rabu (14/09/2011), pihak Dewan Syura (parlemen Arab Saudi) mengaku sudah kebanjiran tuntutan dari kaum perempuan yang mendesak parlemen memveto rencana pemerintah untuk merekrut PRT dari Maroko, menggantikan PRT asal Indonesia.
“Banyak perempuan Saudi keberatan dengan rencana itu, mereka mengatakan perempuan Maroko cantik-cantik dan ini akan menyebabkan kegelisahan dan kekhawatiran dalam setiap keluarga Saudi,” tulis harian Sharq, dikutip laman emirates247.com.
“Sejumlah lainnya mengatakan perempuan Maroko sangat atraktif, sehingga suami mereka dapat dengan mudah tergoda. Ada juga yang mengemukakan bahwa orang Maroko kuat ilmu sihirnya, sehingga suami mereka bisa saja dipelet.”
Rencana pemerintah beralih ke Maroko terungkap pekan lalu, lewat pernyataan seorang pejabat. “Kami tengah mempertimbangkan beralih (mencari PRT) ke negara-negara yang pemerintahnya mengizinkan para pekerjanya bekerja di luar negeri tanpa syarat. Misalnya Maroko dan sejumlah negara Afrika,” ujar Direktur Komite Rekrutmen Tenaga Kerja pada Saudi Chambers Federation, Saad Al Baddah.
Al Baddah mengakui, untuk saat ini memang pihaknya menghadapi kendala untuk merekrut PRT dari Maroko, karena belum adanya fasilitas pusat rekrutmen yang resmi. “Namun, warga Arab Saudi bisa datang ke Maroko dan merekrut langsung PRT dari sana.”
Hal tersebut dibenarkan seorang pejabat Kementerian Tenaga Kerja Arab Saudi, bahwa pemerintah memperbolehkan perekrutan langsung warga Saudi merekrut PRT Maroko.
“Kami akan menyediakan visa kerja bagi PRT Maroko. Namun, mereka (warga Saudi yang merekrut) harus membawa PRT itu ke kantor pemerintah,” ujar Juru Bicara Kementerian Tenaga Kerja, Hattab Al Anzi.
Sementara itu, pihak agen perekrutan PRT yang tersebar di Arab Saudi mengaku mereka juga tengah mencari dan bernegosiasi dengan sejumlah negara untuk memasok PRT ke Arab Saudi. Namun mereka juga mengakui bahwa banyak perempuan Saudi yang menyatakan tidak berminat terhadap PRT asal Maroko.
“Beberapa orang malah mengancam berhenti dari pekerjaan mereka dan memilih tinggal di rumah, mereka tak sudi membiarkan suami mereka sendirian berada di rumah bersama PRT dari Maroko,” tulis Sharq lagi.
Saat ini, lebih dari 1,5 juta PRT dari Indonesia, Filipina, Sri Lanka, dan sejumlah negara Asia lain serta Afrika bekerja di Arab Saudi.*