Hidayatullah.com–Warga Tunisia bersiap untuk memberikan suaranya dalam pemilihan umum bersejarah pertama sejak gelombang unjuk rasa melanda negara-negara Timur Tengah. Diperkirakan sebanyak tujuh juta pemilih akan datang ke tempat-tempat pemilihan suara untuk memberikan suara bagi para politisi dari 100 partai politik yang ikut serta selain calon-calon independen.
Pemilihan ini digelar sembilan bulan setelah jatuhnya Presiden Zainuddin al-Abidine Ben Ali akibat unjuk rasa rakyat.
Dalam pemilihan umum ini, rakyat Tunisia akan memilih 217 wakil rakyat yang akan merancang konstitusi baru dan menunjuk pemerintahan sementara.
Partai Islam An-Nahda diperkirakan bakal memenangkan pemilu meski tidak meraih suara mayoritas.
Pemilu bersejarah ini diwarnai perpecahan antara pendukung ideologi Islam dan sekuler serta perpecahan antara penyokong partai politik dan mereka yang apatis terhadap pemilu.
Untuk mengurangi kekhawatiran ini Partai An-Nahda mengeluarkan pernyataan bahwa meski beridelogi Islam partai ini menyokong demokrasi dan hak-hak perempuan.
Pesaing utama Ennahda diperkirakan datang dari Partai Demokratik Progresif (PDP) yang berhaluan tengah dan sekuler.
Selain itu diperkirakan ratusan pengamat pemilu internasional dan ribuan pengamat lokal akan memantau jalannya pemungutan suara di berbagai TPS yang disediakan.
Sejauh ini, misi pemantau pemilu Uni Eropa menilai secara umum proses kampanye pemilu berjalan transparan.
Tempat-tempat pemungutan suara dijadwalkan buka mulai pukul 7.00 waktu setempat dan tutup pada pukul 19.00, Ahad (23/10/2011).
Diharapkan pada Senin (24/10) hasil sementara perolehan suara sudah bisa diketahui.
Parlemen hasil pemilihan ini diharapkan mampu menyusun konstitusi baru dalam waktu satu tahun. Demikian dilaporkan BBC (23/10/2011)*