Hidayatullah.com–Sejumlah wanita Yaman melakukan aksi bakar kerudung, sebagai ungkapan protes terhadap Presiden Ali Abdullah Saleh yang menghadapi para demonstran dengan kekerasan, Rabu (26/10/2011).
Aksi simbolik itu mendapat pujian dari kalangan aktivis perempuan, yang menilainya sebagai “tindakan berani yang mengandung pesan persatuan.”
Omnia Tharwat, 33, salah satu peserta aksi protes itu kepada Bikya Masr lewat telepon mengatakan, tindakan mereka adalah “untuk menunjukkan kepada pemerintah bahwa kami tidak akan diam dan membiarkan rakyat kami dibunuhi.”
Aksi bakar kerudung itu juga merupakan permohonan kepada suku-suku Badui setempat untuk membantu rakyat Yaman.
Para wanita tersebut melakukan aksinya di ibukota Yaman, Sanaa, menyusul semakin meningkatnya bentrokan antara pasukan loyalis Presiden Ali Abdullah Saleh dengan para penentangnya.
Mereka geram karena Presiden Saleh tidak juga mau turun dari jabatannya, meskipun rakyat sudah melakukan aksi demonstrasi selama lebih dari delapan bulan.
“Kami tidak akan pergi ke mana-mana, ini adalah negara kami dan kami akan segera merebutnya kembali,” kata Tharwat.
Sumber medis setempat melaporkan, 25 warga sipil, pejuang dari suku setempat dan anggota pasukan pemerintah tewas dalam bentrokan yang terjadi di Sanaa dan Taiz pada Selasa lewat tengah malam, tak lama setelah Presiden Saleh mengumumkan gencatan senjata.*