Hidayatullah.com–Hasil karya pemenang Nobel bidang sastra asal Mesir, Naguib Mahfuoz, dinilai mengusung pelacuran dan ateisme oleh seorang tokoh Salafy.
Dalam wawancaranya di sebuah stasiun televisi Mesir Kamis malam (01/12/2011), Abdul Munim Al Sahat mengatakan bahwa novel-novel Mahfouz kebanyakan berkutat seputar rumah pelacuran dan obat-obatan terlarang, lansir Al Ahram.
Lebih lanjut Al Sahat mengatakan, novel “Awlaadu Haaritnaa” (diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul “Children of Gabalawi”) karya Mahfouz yang mengantarkannya meraih Nobel tahun 1988, menrupakan simbol yang yang mengusung ateisme.
Pernyataan Al Sahat tersebut kontan mendapat kecaman dari kelompok liberal dan sejumlah akademisi Mesir.
“Kami sudah lama menekankan (saat rezim lama berkuasa) perlunya menghormati demokrasi dan memberikan kelompok Islam kesempatan untuk menunjukkan pendekatan budaya dan politik mereka; tapi kami (rakyat Mesir) belum melakukan revolusi sampai orang seperti Al Sahat datang untuk mencoreng simbol-simbol kebudayaan kami dan menyebut kami ateis saat mereka (kelompok Islam) mulai mendapat kekuatan,” kata novelis dan kritikus Huwaida Saleh, geram.
Profesor sastra dan novelis kontemporer, Sahar El Mougy, merasa tidak perlu berdebat dengan Al Sahat dan orang-orang dari kelompok Islam seperti dirinya.
Sementara penulis Ibrahim Abdul Majid menilai pernyataan Al Sahat pemikirannya mundur ribuan tahun ke belakang.
Al Sahat, calon anggota legislatif untuk wilayah Alexandria, sebelumnya juga membuat kesal orang-orang kelompok liberal Mesir, lewat pernyataannya yang mengatakan bahwa monumen-monumen peninggalan Firaun Mesir seharusnya ditutupi, karena berakar dari budaya orang-orang yang menyembah berhala.*