Hidayatullah.com–Militer Mesir yang menguasai pemerintahan dan juga sebagian aktivis HAM menuduh anak-anak jalanan dibayar untuk memicu bentrokan antara pasukan keamanan dengan para demonstran, lansir Al Mishry Al Yaum (20/12/2011).
Dewan Tertinggi Militer Mesir dalam konferensi pers hari Senin (19/12/2011) menunjukkan rekaman video berisi pengakuan anak-anak, yang diiming-imingi makanan dan uang untuk memicu kerusuhan.
Namun, tuduhan pihak militer itu dibantah oleh Malik Adly, pengacara yang menangani anak-anak yang ditangkap pihak keamanan.
Menurutnya, dalam kerusuhan yang pecah sejak Jum’at pekan lalu, ada 23 anak ditangkap aparat dan tidak ada satupun yang menyebut tentang bayaran untuk ikut berdemonstrasi.
“Mungkin beberapa anak dibayar, tapi hal itu tidak saya dengar dari anak-anak tersebut,” kata Adly, pengacara dari Hisham Mubarak Law Center.
Adly menambahkan, 21 orang dari anak-anak yang yang ditangkap itu sudah dikembalikan kepada orangtua mereka. Sementara 2 anak lainnya, masing-masing berusia 11 tahun, diserahkan ke pihak penuntut kejahatan anak, guna diselidiki lebih lanjut dalam kasus penyerangan terhadap aparat militer.
Seorang sumber dari organisasi perlindungan anak internasional –yang tidak mau disebutkan namanya karena tidak berwenang bicara kepada media– mengatakan bahwa ia meragukan pengakuan yang ditunjukkan pihak militer dalam video.
“Saya tidak percaya SCAF (dewan militer), jadi bagaimana saya yakin pengakuan ini tidak dipaksakan?” katanya.
Anak-anak yang ikut berunjukrasa rupanya geram dituduh mendapat bayaran untuk melakukan aksi lempar batu ke aparat keamanan.
“Saya berpartisipasi, supaya ketika dewasa saya tidak tertindas,” kata Mustafa Al Sayed, bocah berusia 12 tahun kepada Egypt Independent, setelah melempar batu ke barikade tentara di Jalan Qasr Al Aini.
Sayed mengatakan ia ikut unjuk rasa sejak awal. Dia menyangkal dibayar untuk ikut beraksi di sana dan mengaku tidak pernah mendengar ada anak lain yang dibayar untuk melempari aparat dengan batu.
“Mereka bilang begitu karena takut kami akan menghabisi mereka,” katanya, dengan wajah kesal.
“Banyak anak-anak yang ditangkap karena ikut berunjuk rasa, dan saya ingin mengikuti mereka,” katanya lagi.
Pembicaraan Sayed dengan wartawan yang menanyainya terganggu, karena tiba-tiba batu-batu dilemparkan kembali oleh polisi ke arah pengunjuk rasa yang kebanyakan anak-anak.
Sementara itu, aktivis dari Asosiasi Asistensi Pemuda dan HAM Mesir mengatakan percaya sejumlah anak dibayar untuk memicu kekerasan dan menyebabkan kekacauan.
“Ada anak-anak yang benar-benar mendukung revolusi, tapi ada juga lainnya yang bikin masalah,” kata Mahmud Al Badawy, ketua asosiasi itu.
Namun, keyakinan Badawy itu tidak didukung bukti yang kuat. Ia tidak mendapatkan pengakuan langsung dari anak-anak yang berunjuk rasa. Ia hanya mendapatkan informasi dari laporan televisi pemerintah Al Ula, yang mengatakan sekelompok anak-anak ditangkap polisi dan mereka mengaku dibayar 50-100 pound per hari untuk melempar batu.
Badawy yakin kasus seperti itu bukanlah hal yang baru.
Saat terjadi serangan ke Kedutaan Israel pada bulan September lalu, sekelompok pemuda ditangkap dan pemimpin mereka mengaku bahwa ia dibayar 10.000 pound untuk mengajak anak-anak turun ke jalan.
“Pada hari yang sama, sekelompok anak merusak simbol Kementerian Dalam Negeri, sementara para demonstran di Lapangan Tahrir,” kata Badawy.
Anak-anak yang sama, kata Badawy, lalu mendatangi Kedutaan Saudi dan membakar mobil milik kedutaan, kemudian mereka menyerbu Kedutaan Israel.
Badawy tidak memiliki informasi siapa kemungkinan yang membayar mereka. Tapi, ia yakin ada sekitar 15 juta pengikut rezim terdahulu dari Partai Nasional Demokrat –partainya Husni Mubarak– yang punya kepentingan untuk mengacaukan gerakan revolusi di Mesir.
“Dengan membuat kekacauan, mereka ingin menciptakan rasa kangen dengan masa Mubarak berkuasa,” katanya.
Badawy juga mencurigai Dewan Nasional Anak dan Ibu, lembaga pemerintah yang bergerak dalam urusan perlindungan anak dan ibu.
“Mengapa mereka sangat diam dalam masalah ini,” tanya Badawy.
“Kami telah menanyakan SCAF (dewan militer) tentang jutaan dana dari luar negeri yang diterima oleh Dewan Nasional Anak dan Ibu, serta apa yang terjadi dengan program anak jalanan. Tapi kami belum mendapat jawaban,” kata Badawy.
Samah Hussein dari Asosiasi Konsolidasi Sosial Mesir penya pendapat lain.
“Mereka ini anak-anak yang dari 25 Januari mendapati bahwa orang-rang di lapangan Tahrir baik kepada mereka, jadi mereka kembali,” kata Hussein.
“Mereka melempari batu karena mereka ingin mendapatkan hak-haknya. Sebagian ikut serta karena tidak tahu ada hal lain yang lebih baik, lagipula mereka selama ini sudah berada di jalanan.Sebagian lain berada di sana karena mereka mendengar itu adalah tindakan yang benar. Tapi mereka di sana bukan untuk uang,” kata Hussein.*