Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Angkat Bicara untuk Perusakan Masjid

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 16 Januari 2012 05:54
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Di seluruh dunia, orang-orang dibuat geram oleh berita dirusaknya masjid-masjid di Israel dan ditorehkannya grafiti rasis di dinding-dinding masjid itu. Orang-orang Yahudi Israel merasa malu. Kami bertanya pada diri kami sendiri: apakah para pelakunya mengerti sejarah dan teologi Yahudi, yang jelas mengajarkan penghormatan terhadap setiap manusia dan perlunya melawan ketidakadilan di mana pun kita melihatnya?

Saya, seorang anak muda Yahudi Inggris yang tumbuh besar dalam bayang-bayang Holocaust, tahu tentang Kristallnacht (Malam jernih), suatu malam pada tahun 1938 ketika puluhan sinagog di Jerman diserang. Dalam kelompok diskusi anak muda kami pernah membincangkan bagaimana pengambinghitaman orang-orang dan perusakan bangunan ibadah mereka adalah langkah pertama menuju pembantaian massal. Kami pun dengan bangga memproklamirkan, “jangan pernah ada lagi”—jangan pernah lagi ini terjadi kepada orang-orang Yahudi; dan jangan pernah pula ini terjadi pada orang-orang lain.

Kami memahami perintah Injil akan adanya sebuah negara Yahudi merdeka untuk melindungi siapa saja, termasuk mereka yang memiliki tradisi berbeda.

Menggali hubungan kami dengan agama-agama lain, kami mendapati bahwa sejak zaman pertengahan, rabbi-rabbi besar mengajarkan kepada para pengikut mereka bahwa Islam adalah sebuah agama monoteis yang penganutnya harus diperlakukan dengan respek. Ketika filsuf besar Yahudi, Maimonides, merenung mengapa Tuhan menciptakan begitu banyak orang yang keyakinannya berbeda dari keyakinannya, ia menyimpulkan bahwa meskipun kehendak Tuhan tidak bisa sepenuhnya dipahami, Islam dan Kristen tampak menjadi bagian dari rencana Tuhan untuk menyebarkan monoteisme etis ke seluruh dunia.

Pendekatan liberal terhadap tradisi-tradisi agama lain ini mendapatkan ujian ketika negara modern Israel dideklarasikan pada 1948. Bagaimanakah negara Yahudi memperlakukan komunitas agama lain?

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Kepala Rabbi pertama Israel memikirkan pertanyaan ini dan dengan jelas menegaskan bahwa menurut hukum Yahudi, Muslim dan Kristen berhak mendapatkan kewarganegaraan penuh di negara baru ini. Penegasan ini dikukuhkan dalam Deklarasi Negara Israel, yang menyatakan bahwa negara baru ini akan “menjunjung kesetaraan sosial dan politik penuh dari semua warganya, tanpa pembedaan ras, keyakinan atau jenis kelamina; akan menjamin kebebasan penuh untuk berpikir, beribadah, berpendidikan dan berkebudayaan; akan menjaga kesucian dan kekeramatan tempat-tempat ziarah dan tempat-tempat suci semua agama.”

Ironisnya, Rabbi Abraham Isaac Kook, Kepala Rabbi pertama Tanah Suci dan ikon gerakan Zionis, yang memperingatkan bahwa nasionalisme Yahudi, seperti halnya nasionalisme yang lain, mengandung bahaya xenofobia. Ia memandang negara Yahudi yang baru lahir sebagai pemenuhan ramalan kuno dalam Injil dan ia yakin bahwa negara ini akan menakjubkan, kreatif dan etis. Namun, ia juga mengingatkan bahwa tanpa dipenuhinya tanggung jawab oleh negara baru ini terhadap semua warganegara, “negara ini [akan] pada akhirnya membakar membuyarkan moralitas bila ia melabrak batas-batasnya.”

Peringatannya tepat sekali. Suatu filosofi xenofobia tengah tumbuh di sini, yang mengabaikan hak-hak yang absah dari orang-orang Palestina yang keluarganya telah hidup di sini selama beberapa generasi. Filosofi ini tetap saja hanya dimiliki oleh sekelompok kecil masyarakat Israel, namun ini berbahaya dan harus dihentikan. Bermula dari retorika angkuh tidak menyenangkan, yang berbuntut serangan ke perkebunan zaitun orang Palestina, meletuplah kekerasan terhadap orang-orang dan masjid-masjid. Ironisnya, kekerasan ini kini berbalik arah, berkembang menjadi serangan ke para prajurit Israel yang tugasnya mempertahankan hukum dan ketertiban, melindungi para warga dan memenuhi komitmen Israel untuk memindahkan permukiman ilegal.

Mungkin perkembangan-perkembangan ini hanyalah bagian dari fenomena meningkatnya intoleransi beragama di dunia. Atau mungkin akibat dari kekecewaan atas mundurnya Israel dari Gaza yang tidak menghentikan seringnya serangan roket melintasi perbatasan. Atau mungkin ini ketakutan Israel bahwa Iran punya ambisi nuklir dan ingin menghancurkan Israel. Ini adalah ancaman-ancaman eksistensial yang membuat takut banyak orang Yahudi Israel dan merusak keyakinan mereka pada mungkinnya perdamaian. Di tengah situasi ini, para pemukim tidak mau menerima kemungkinan kalau mereka akan dipindahkan dari rumah-rumah mereka sebagai imbalan untuk sebuah mimpi akan perdamaian.

Terlepas dari ketakutan-ketakutan ini, aksi-aksi perusakan terhadap warga Palestina yang tidak bersalah, tempat tinggal dan tempat ibadah mereka adalah tidak bermoral, tidak sesuai dengan nilai-nilai Yahudi, dan tidak bisa diterima. Mereka mencemarkan nama orang-orang beriman dan mereka mencemarkan nama Tuhan.

Kita harus mengecam intoleransi beragama dan bekerja lebih keras untuk adanya dialog dan perdamaian. Kita harus mendesak para pemimpin (Yahudi) kita untuk meraih kesepakatan yang adil dengan rakyat Palestina, menyegerakan masa ketika setiap penghuni negeri ini bisa hidup dalam perdamaian, keadilan dan martabat. Inilah visi Israel yang tertuang dalam Taurat, “Mereka akan menempa pedang-pedang mereka menjadi mata bajak, dan tombak-tombak mereka menjadi pisau pemangkas. Bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan belajar perang lagi” (Yesaya 2:4).*

Rabbi Gideon D. Sylvester, seorang Rabbi di Sinagog-Inggris Bersatu di Israel. Ia juga Direktur program Rabbis for Human Rights Beit Midrash, yang mengkaji perspektif Yahudi tentang hak asasi manusia, di Hillel House, Hebrew University, Yerusalem.  Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).

Keterangan: sebuah masjid hancur oleh seranngan Zionis-Israel

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:islammasjidMedia Islamold migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya ICMI Pelopori Gerakan “Tanjungpinang Berbagi”
Tulisan selanjutnya API Bandung Desak DPR Segera Buat UU Larangan Miras

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Berita
3 Juni 2026 06:00
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?