Hidayatullah.com—Langit di atas kota Riyadh tiba-tiba menjadi gelap siang hari kemarin (13/04/2012), sehingga mengubah suasana terang menjadi gelap gulita dengan jarak pandang hampir tidak ada sama sekali.
“Langit mendung hampir sepanjang hari, sampai tiba-tiba mendadak menjadi gelap pada siang hari karena badai pasir. Pengendara kendaraan bermotor harus menyalakan lampu bahaya untuk memperingatakan pengemudi lain sebab lalulintas melambat,” kata Eric P. Asi seorang teknisi listrik di sebuah perusahaan, dikutip Arab News (14/04/2012).
Kata Asi, gelap menyelimuti seluruh kawasan penting di ibukota seperti di jalan-jalan Qassim, Raja Fahd, Khurais dan Makkah, akibat badai pasir yang menghembus sejak pukul 5 sore.
Keadaan semakin memburuk, karena badai pasir kemudian disusul dengan hujan lebat.
Sebelumnya, Badan Meteorologi dan Lingkungan telah mengeluarkan peringatan kemungkinan perubahan cuaca yang tidak menentu. Menurut jurubicara Badan Meteorologi Hussein Al Qahtani, cuaca tidak menentu akan berlangsung selama beberapa waktu.
Departemen Pertahanan Sipil kemudian memperingatkan ancaman banjir bandang akibat hujan lebat. Meminta masyarakat agar menjauhi jalan-jalan karena takut terseret banjir bandang.
Badai pasir dilaporkan juga menghantam Provinsi Timur, meskipun tidak separah yang terjadi di Riyadh.
“Badai pasir tejadi pada pukul 4.30 sore tapi berhenti ketika hujan turun. Hujan lebat disertai petir dan suara gemuruh berhenti pada pukul 7 malam, dan berlanjut pada 7.45 dengan disertai petir,” cerita Edward Rodriguez seorang manajer di sebuah perusahaan di Al Khobar.
Di Qassim, badai yang menghantam berhenti seiring dengan datangnya waktu malam.
“Badai pasir yang disertai angin besar, tidak sekuat badai pasir yang terjadi pada hari Selasa,” kata Dionisio B. Tabuco Jr. seorang mekanik di perusahaan farmasi.
Di Jazan, suasananya menjadi gelap dan jarak pandang nol. Tetapi, bukan disebabkan badai pasir, melainkan karena kabut.
“Ada badai pasir dari Jazan sampai Al Darb, tetapi jarak pandang masih baik. Namun, dari Al Darb ke Abha jarak pandang tidak ada. Bukan karena badai pasir tetapi karena kabut,” cerita Mercelino Vario, seorang operator alat berat yang melintasi jarak 200 km dari Jazan ke Al Darb.
Di Asir cuacanya jauh berbeda, sebab wilayah tersebut justru dihujani batu-batu es. Hujan selama tiga hari terakhir, kadang disertai butiran es, kata Andy Relox seorang petugas statistik di RS Universitas Raja Khalid.*