Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Masjid-Masjid Terus Berdiri Amerika

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 14 April 2012 11:27
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Anda tidak harus menjadi Muslim untuk bisa mendapati kabar baik dalam sebuah penelitian tentang pertumbuhan masjid di Amerika Serikat baru-baru ini. Survei nasional terhadap para pemuka masjid di Amerika Serikat ini, yang disponsori oleh Masyarakat Islam Amerika Utara (ISNA), Institut Keagamaan Hartford, Lingkar Islam Amerika Utara (ICNA), dan Dewan Hubungan Islam Amerika (CAIR), menemukan bahwa lebih dari 900 masjid baru telah dibangun di Amerika Serikat sejak tahun 2000—periode ketika pemerintah melakukan pengetatan pengawasan dan maraknya kontroversi pembangunan masjid.

Dari 2.106 pusat kegiatan Muslim di seantero Amerika Serikat, seperempatnya dibangun dalam sepuluh tahun terakhir.

Kabar baik pertama dalam penelitian ini bagi orang Amerika non-Muslim adalah bahwa Amandemen Pertama Konstitusi AS – yang di antaranya menyatakan “Kongres tidak dibolehkan membuat undang-undang yang mendukung pelembagaan agama, ataupun yang melarang kebebasan pengamalan agama” – ternyata berjalan lebih baik ketimbang yang tampak di musim panas 2010.

Saat itu, merebak protes terhadap rencana pembangunan sebuah pusat kegiatan Islam di dekat lokasi World Trade Center, dan berkembang menjadi perdebatan nasional, dengan demonstrasi anti-masjid membentang dari Tennessee hingga California. Kata-kata pedas anti-Muslim yang menjadi hidangan sehari-hari di media siar dan di internet waktu itu – yang isi dan nadanya mirip dengan makian anti-Katolik pada awal abad ke-19—seperti terbukti sekarang, ternyata hanyalah kemunduran sesaat dalam perjuangan kita selama 235 tahun untuk menjadi negara yang lebih sempurna.

Survei ini, yang menunjukkan bahwa masjid-masjid terus saja dibangun kendati ada “ketakutan luar biasa terhadap masjid” yang didengung-dengungkan di acara bincang-bincang Fox News, mengisyaratkan bahwa protes-protes itu hanyalah hal kecil yang dilebih-lebihkan. Dengan kata lain, sebagai salah satu negara yang paling religius sekaligus majemuk di muka bumi, kita bergerak tertatih dengan jatuh bangun bersama ketimbang sendiri-sendiri.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Kabar baik kedua dari survei ini adalah adanya potensi untuk lebih banyak kemitraan lintas agama untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial di semua agama. Kami, yang bekerja di Interfaith Center of New York dengan ratusan pemuka agama dari setidaknya 15 tradisi agama selama satu setengah dasawarsa terakhir, telah bisa melahirkan dan memperkuat hubungan antaragama dan antarwarga dengan melibatkan para tokoh agama akar rumput dalam menangani masalah-masalah sosial bersama – mulai penyitaan rumah hingga kekerasan rumah tangga. Metodologi ini memungkinkan kita untuk mengajarkan keterampilan berwarga negara kepada para pemuka agama akar rumput pada satu sisi, dan pada sisi lain mengajarkan para hakim, guru, pekerja sosial dan politisi lokal tentang penghargaan pada keragaman agama.

Ada banyak komunitas agama yang masih berpandangan bahwa menjadi seorang pemimpin warga (melalui kegiatan-kegiatan seperti bertugas menjadi anggota juri di peradilan, melobi balai kota, menggalang dukungan suara, dsb.) sama saja dengan menanggalkan peci atau sorban. Dulu banyak pendeta Baptis kulit hitam pendukung Martin Luther King, Jr. yang menginginkan King keluar dari politik. Karenanya, seperti halnya gereja atau kuil, dalam hal keterlibatan social, masjid tidak bisa dipukul rata. Salah satu kabar yang menenteramkan dari penelitian ini adalah 98 persen para pemuka masjid mengatakan bahwa Muslim semestinya terlibat di lembaga-lembaga Amerika, dan 91 persen setuju bahwa Muslim semestinya terlibat dalam politik.

Dari kacamata seorang warga New York (sebab kami bangga dengan jumlah masjid terbanyak dibanding negara bagian lain di Amerika, selisih satu di atas California), kami memiliki sedikit otoritas mengenai hal ini. Selama lebih dari satu dasawarsa kami di Pusat Lintas Agama di New York telah melihat bagaimana warga New York yang Muslim bekerja dengan orang-orang dari agama lain untuk memperkuat tatanan sosial dan lembaga-lembaga publik—mulai dari memberi makan orang kelaparan di dapur umum halal di Bronx, meningkatkan kesadaran HIV/AIDS di masjid-masjid di Harlem, bermitra dengan orang-orang Katolik Roma mendatangi warga untuk Biro Sensus AS, hingga menjadi juri, serta bekerja sebagai ustaz di rumah sakit umum dan bersama Palang Merah di Ground Zero pada 2001.

Kami melakukan pengamatan langsung didukung oleh studi-studi lain yang menunjukkan bahwa masjid, seperti halnya gereja dan sinagog, dikaitkan dengan keterlibatan warga negara di level lebih tinggi. Ditemukan bahwa orang Amerika Muslim yang aktif di masjid mereka 53 persen lebih terlibat dalam kegiatan-kegiatan warga negara (seperti dalam organisasi-organisasi amal, sekolah dan/atau program-program pemuda) dibanding mereka yang tidak aktif ke masjid.

Melawan kemiskinan, tuna wisma dan ketidaktahuan adalah sebuah pekerjaan besar, dan orang-orang New York yang Muslim telah beberapa dasawarsa bekerja bahu-membahu dengan para penganut agama lain maupunmereka yang tidak beragama untuk menuntaskan tantangan-tantangan besar ini. Pertumbuhan masjid-masjid di seluruh Amerika, alih-alih membuat non-Muslim merasa takut, justru menjanjikan penguatan struktur kewarganegaraan di negara ini.*

Pendeta Chloe Breyer, Direktur Eksekutif Interfaith Center di New York dan Imam Muda di Gereja Episkopal St. Mary, West Harlem, New York. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).

Foto:Jamaah shalat di Maryland/AFP

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Media IslamMuslimold migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Bersegeralah, Pintu Taubat Masih Terbuka
Tulisan selanjutnya Asal Julukan “Si Tuli” Hatim bin Ulwan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Bendera Palestina dan Bendera Irlandia di Balai Kota Dublin
Berita

Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli

Berita
1 Juni 2026 11:20
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?