Hidayatullah.com—Utusan internasional untuk Suriah Lakhdar Brahimi hari Jumat bertemu dengan tokoh oposisi, yang mengatakan bahwa pengganti Kofi Anan itu membawa ide-ide baru upaya penyelesaian konflik di Suriah, lansir AFP (14/9/2012), sementara Presiden Assad menyeru dilakukannya dialog di kalangan orang Suriah sendiri.
Brahimi bertemu dengan kelompok oposisi yang ditoleransi oleh Presiden Suriah Bashar Al Assad, seperti Komite Koordinasi Nasional untuk Perubahan Demokratis (NCCDC) yang terdiri dari kelompok-kelompok Arab, Kurdi dan kaum sosialis.
“Kami katakan kepada Tuan Brahimi … tentang dukungan kami atas upayanya menyelesaikan krisis dengan mengakhiri kekerasan dan pembunuhan, menyediakan perawatan medis dan membebaskan para tahanan politik,” kata Hassan Abdul Azim, jurubicara kelompok oposisi yang mendapat pengakuan dari rezim Assad itu kepada para wartawan.
“Brahimi akan mendengarkan (aspirasi) oposisi dan para pejabat (pemerintah) guna mengkristalkan ide-ide baru yang membawa hasil,” kata Abdul Azim usai pembicaraan di antara mereka di sebuah hotel di ibukota Damaskus.
Abdul Azim juga mengatakan bahwa ide penyelesaian damai konflik Suriah yang diajukan Kofi Annan akan diamandemen. “Akan ada ide-ide dan tindakan baru,” ujarnya.
Kelompok oposisi NCCDC, kata Abdul Azim, berangkat ke China hari Sabtu ini guna mendesak Beijing –yang merupakan negara sekutu Assad—menekan rezim mengakhiri kekerasan, membebaskan para tahanan dan memperbolehkan unjuk rasa damai.
Kunjungan Brahimi ke Suriah sejak hari Kamis (13/9/2012) tersebut merupakan yang pertama kalinya sejak ia ditunjuk menggantikan Kofi Annan sebagai utusan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Suriah. Sesampainya di Damaskus, Brahimi bertemu dengan Menteri Luar Negeri Walid Mualim dan pada Sabtu pagi bertemu dengan Assad.
Assad Minta Dialog
“Masalah sebenarnya di Suriah adalah kombinasi antara politik dan aktivitas yang dilakukan di lapangan,” kata Assad, dilansir Al Arabiya, Sabtu (15/9/2012).
“Kerja politik jalan terus, khususnya dengan menyeru dilakukannya dialog antara orang Suriah berdasarka aspirasi seluruh rakyat.”
“Kesuksesan kerja politik tergantung pada tekanan yang diberikan kepada negara-negara yang mendanai dan melatih para teroris [pasukan oposisi], dan yang membawa senjata masuk ke Suriah, sampai mereka berhenti melakukannya,” kata Assad.
Assad mengatakan, pemerintahannya akan bekerja sama dengan sungguh-sungguh untuk menyelesaikan krisis, sepanjang semua upaya yang dilakukan netral dan independen.*