Hidayatullah.com—Jauh di dalam perbukitan di Burgundy wilayah tengah Prancis, sebuah institut tidak biasa mencetak mahasiswa tidak biasa, yang diarahkan untuk menjadi imam yang akan membimbing umat Islam Prancis, lapor AFP (30/10/2012).
Pagi-pagi, sekitar 200 mahasiswa dari berbagai daerah di Prancis tampak mendatangi European Institute of Human Sciences de Saint-Leger-de-Fougeret, tempat mereka belajar membaca al-Qur`an, teologi Islam dan litertur Arab.
Setelah menempuh masa studi selama 7 tahun, hanya sekitar 10 orang yang lulus kemudian bisa menjadi imam serta dai di masjid-masjid.
Jumlah itu tentu tidak sebanding dengan jumlah penduduk Muslim Prancis yang diperkirakan sebanyak 3,5 hingga 6 juta jiwa, meskipun tidak jelas berapa jumlah Muslim yang benar-benar menjalankan ajaran Islam (terutama shalat-red). Jumlah Muslim Prancis adalah yang terbanyak di Eropa.
Sembilan tahun terakhir, para pejabat pemerintah mendorong diadakannya pelatihan lokal untuk calon-calon pemimpin agama. Menteri Dalam Negeri Prancis Manuel Valls bahkan mendukung upaya mencetak para imam lokal meskipun bayaran untuk pekerjaan tersebut rendah dan tidak mendapatkan pengakuan resmi.
“Pelatihan para imam yang merupakan produk dari masyarakat Prancis sangat vital, sebab saat ini 70 persen Muslim tidak dapat berbahasa Arab,” kata direktur institut itu Zuhair Muhammad.
Pertama kali beroperasi tergantung sepenuhnya kepada sumbangan negara-negara Teluk, sekarang sekolah itu sangat mengandalkan iuran pendidikan sebesar 3.400 euro ($4.400) pertahun, sudah termasuk biaya sekolah dan asrama.
Said, yang tidak bersedia menyebutkan nama belakangnya, dilahirkan di Maroko dan sekarang tinggal di Nice selatan Prancis. Dia bercita-cita menjadi seorang imam.
“Saya ingin membagi ilmu saya kepada orang lain dan terutama melawan ekstrimisme,” katanya.
Di kelasnya, terdapat sekitar 10 orang. Mereka belajar membaca dan tafsir al-Qur`an, serta hukum yang berlaku di negara prancis.
“Menjadi imam bukanlah hal yang terjadi secara tiba-tiba,” kata pemuda berusia 33 tahun itu kepada AFP. Seraya menjelaskan bahwa menjadi imam berarti dituntut tanggungjawab besar. Dia juga mengeluhkan kondisi imam moderat yang sering tidak diacuhkan oleh Muslim yang mengalami krisis identitas.
“Radikalisme selalu mereupakan hasil dari kejahiliyahan,” kata guru teologi Said, Larbi Belbachir.
Anda tidak dapat menyampaikan pesan tanpa mengetahui bahasa Prancis. Islam dapat beradaptasi dan tidak menghalangi Anda untuk mematuhi hukum (hukum negara-red),” imbuhnya.
Ide pendirian pusat pendidikan untuk mencetak imam lokal Prancis muncul 20 tahun lalu saat persatuan organisasi Islam di Prancis yang memiliki hubungan dekat dengan Al Ikhwan Al Muslimun mengubah bekas pusat bermain anak menjadi sebuah institut. Tujuannya adalah mencetak imam-imam Muslim yang memiliki pengetahuan tentang Islam sekaligus memahami realita sosial budaya Eropa.*