Hidayatullah.com–Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov mengatakan kepada wartawan hari Senin (28/01/2013) di Moskow bahwa pemerintah Rusia tidak mendukung salah satu pihak dalam konflik di Suriah, dan mengecam negara-negara lain yang menyalahtafsirkan posisi Rusia. Demikian dikutip Voice of America (VoA).
Pernyataan itu dikeluarkan sehari setelah PM Dmitry Medvedev mengatakan, Assad melakukan kesalahan hampir fatal dengan menunda reformasi demokrasi yang dituntut oposisi.
Ditegaskan, Assad seharusnya bertindak lebih cepat merangkul lawan-lawan politiknya yang moderat, dan bahwa peluang Assad untuk mempertahankan kekuasaan kian hari kian kecil.
Rusia sejak lama menjadi pemasok senjata untuk keluarga Assad, dan telah beberapa kali memveto resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengutuk Assad karena menindas pergolakan pro-demokrasi yang tadinya damai.
Juga hari Senin para anggota oposisi Suriah bertemu dengan wakil negara-negara yang mendukung mereka, dimana Menteri Luar Negeri Perancis Laurent Fabius menyerukan agar oposisi diberi sarana untuk mempertahankan diri dan mendukung tujuan politiknya.
Sebelum ini, Dmitry Medvedev memprediksi kecil kemungkinan Bashar al Assad bisa bertahan, Ia mengatakan, kesempatan Bashar al-Assad untuk tetap berada di puncak kepemimpinan semakin “mengecil dan mengecil,” demikian istilahhnya dilansir Reuters berdasarkan transkrip wawancara dengan CNN yang dirilis kantor Medvedev hari Ahad (27/01/2013).*