Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Masalah di Tunisia Muncul karena Kemiskinan, Bukan Agama

Ama Farah
Terakhir diupdate: 30 Mei 2013 07:27 7:27 am
Ama Farah
Dipublikasikan 30 Mei 2013 07:27
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Revolusi bangsa Tunisia gagal, jika tidak dapat menaikkan taraf hidup 2 juta rakyatnya yang berada di bawah garis kemiskinan, kata Presiden Moncef Marzouki kepada Hurriyet Daily News.

“Kami mengalami revolusi ini disebabkan oleh kemiskinan,” katanya, Kamis (30/5/2013) disela-sela kunjungan tiga harinya di Turki.

“Jika kami tidak berhasil mengeluarkan 2 juta rakyat dari kemiskinan, maka revolusi kami gagal. Sebab, memang penting memiliki sebuah negara demokrasi, tetapi lebih penting lagi adalah memberikan rakyat pekerjaan,” kata Marzouki. “Kehormatan tanpa punya pekerjaan dan standar hidup [layak] adalah percuma.”

Saat ini, tahap revolusi di Tunisa masih bergelut soal politik, menyusul ditumbangkannya rezim Zainal Abidin bin Ali yang terkenal dengan sebutan Ben Ali pada pertengahan Januari 2011.

Menurut Marzouki, kemiskinan adalah masalah nasional, di mana partai apapun yang akan memenangkan pemilihan umum akhir tahun ini harus memiliki program pengentasan kemiskinan untuk jangaka waktu lima tahun ke depan.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

“Tidak ada yang punya solusi ajaib, jadi kita harus duduk dan memikirkan bersama mengenai beragam cara dan menyatukan ide-ide kita guna membuat rencana memerangi kemiskinan secara nasional,” lanjut Marzouki.

Menyinggung soal pembangunan politik, Moncef Marzouki mengatakan bahwa pusat perhatian utamanya bagi Tunisia adalah mencegah munculnya kediktatoran.

“Kami memiliki masalah itu setelah kemerdekaan,” jelas Marzouki. “[Persiden pertama Habib] Bourguiba merupakan ketua partai, dan dia memiliki semua kekuasaan, semua kursi di parlemen. Dan akhirnya dia menjadi seorang diktator.”

“Jadi kami sangat takut dengan sistem parlementer ini karena pengalaman masa lalu. Kami juga takut dengan sistem presidensial karena kami mengalaminya di bawah Zainal Abidin bin Ali di mana dia juga berubah menjadi diktator,” paparnya.

Sekarang, Tunisia sedang mencari sistem politik yang menyeimbangkan antara kekuatan presiden dengan perdana menteri, sehingga tidak ada yang bisa menjadi diktator.

Dalam kesempatan wawancara itu, presiden Tunisia itu juga berbicara soal perpecahan dalam masyarakat dan masalah keamanan.

Menurutnya, masalah polarisasi di masyarakat merupakan sebuah kenyataan yang harus dilawan.

Menyinggung soal kelompok Salafy yang dinilai melakukan kerusuhan dan kekerasan oleh sebagian kalangan di Tunisia, Marzouki berkata, “Salafy itu memiliki spektrum luas. Dalam masalah ini, di kami juga terdapat orang-orang Salafy tetapi tidak melakukan kekerasan.”

Kelompok-kelompok yang melakukan kekerasan kata Presiden Moncef Marzouki hanyalah “minoritas kecil”, seraya mengingatkan bahwa pasukan pemerintah jauh lebih kuat dari kelompok-kelompok yang ada di Tunisia itu.

Lebih lanjut Marzouki mengatakan, “Islam di Tunisia moderat selama berabad-abad. Orang-orang ini bukan ancaman bagi stabilitas negara, melainkan ancaman bagi citra bangsa. Meskipun demikian, anda tetap harus mengatasi masalah itu dengan serius.”

Dia menambahkan, masalah kekerasan di masyarakat Tunisia berkaitan erat dengan masalah kemiskinan.

“Dari depan itu seperti [kelihatan] sebagai masalah agama, [tetapi sesungguhnya] anda memiliki masalah sosial.,” kata Marzouki, seraya menyoroti bahwa di kalangan rakyat terbentuk semacam lumpenproletariat (istilah Marxisme, di mana rakyat kelas pekerja yakin tidak akan pernah naik status sosialnya ke tingkat lebih tinggi, sehingga merasa tidak perlu melakukan revolusi -red)

“Para pemuda yang sangat miskin berasal dari daerah pedesaan tanpa pekerjaan. Sebagian dari mereka ada yang pernah dipenjara, memakai narkoba. Dalam [kelompok] teroris mereka menemukan rehabilitasi sosial. Saya selalu mengatakan bahwa kita harus memberikan mereka rehabilitasi sosial. Kita harus menemukan cara untuk memberikan mereka pekerjaan dan sebagainya.”

Mengomentari soal konflik di Suriah, presiden Tunisia itu mengatakan bahwa menurutnya apa yang terjadi di negara tetangga tersebut bukanlah revolusi, melainkan perang sipil. Oleh karenanya, dia menyarankan agar masalahnya diselesaikan secara politik, sebab tidak ada pihak yang akan menang jika saling mengerahkan kekuatan militer.

Soal pihak-pihak asing yang terlibat dalam perang di Suriah Marzouki berkata, “Tentu saja kami tidak percaya bahwa berpartisipasi dalam perang sipil merupakan jihad. Itu hanyalah merupakan perang sipil pihak asing.”

Marzouki menyarankan, lebih baik pihak-pihak yang bertikai di Suriah duduk dalam satu meja untuk mencari solusi.

“Mereka harus saling menerima satu sama lain. Begitu menurut pengalaman kami. Jika anda tidak menerima partai lain, jika anda tidak setuju untuk bekerja bersama, maka anda akan bentrok dan situasinya akan semakin memburuk. Sementara anda saling berperang, keadaan ekonomi semakin parah. Lalu situasi politik juga semakin marah. Akhirnya anda berada dalam keadaan kacau-balau,” pungkas Marzouki.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Remaja China Coreti Dinding Kuil Luxor
Tulisan selanjutnya Tentara AS Pembantai Rakyat Afghanistan Mengaku Bersalah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Kasus Hukum di BGN Harus Jadi Momentum Perbaikan Tata Kelola dan Integritas Pengelola

Berita
8 Juni 2026 17:20
Jenderal ‘Israel’ Naik Pangkat Usai Bunuh Anak Palestina, Kini Dipecat karena Skandal Moral
Emil Salim Dorong MUI Perluas Dakwah Ekologis ke Kalangan Menteri Kabinet
Pra Kongres Umat Islam VIII, MUI Gelar Halaqah Nasional Bahas Pesantren Aman dan Ramah Anak
Sikap Prof. H. M. Rasjidi terhadap Jabatan

Terbaru

  • Persidangan Kasus Rodrigo Duterte di ICC Bisa Melibatkan 1.000 Korban
  • Malaysia akan Putus Aliran Listrik dan Air Bangunan Ilegal Termasuk di Penampungan Rohingya
  • Kapalnya Ditembak Dekat Oman India Panggil Diplomat Amerika Serikat
  • Seorang Ibu Gugat OpenAI Terkait Kematian Putrinya Usai Curhat ke ChatGPT
  • Kelompok Hacker Terkait Iran Klaim Retas Drone FBI
  • Jelang Musim Panas UEA Sediakan 12 Ribu Tempat Istirahat Ber-AC untuk Pekerja Luar Ruangan
  • Sikap Prof. H. M. Rasjidi terhadap Jabatan
  • Mengukir Senyum, Merajut Persaudaraan: Hangatnya Kebersamaan Qurban di Dukuh Kwarasan
  • Haflah Parade Tasmi’ Al-Qur’an, Momentum Mencetak Generasi Penghafal Al-Qur’an
  • China Tangkap Akademisi WN Amerika dengan Tuduhan Spionase

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?