Hidayatullah.com—Presiden Mesir Muhammad Mursy menolak seruan mundur dari oposisi dengan mengatakan bahwa dirinya “penjaga legitimasi” Mesir.
Dalam pidato yang disiarkan televisi Selasa malam (2/7/2013) Mursy menuding orang-orang pendukung rezim Husni Mubarak berada di belakang aksi massa yang berusaha menggoyang kedudukannya.
“Tidak ada pengganti untuk legitimasi,” kata Mursy dalam pidatonya selama 45 menit. “Revolusi 25 Januari akan mencapai tujuannya. Legitimasi akan dijaga dan saya bersedia menyerahkan hidup saya untuk mempertahankannya,” kata Mursy, yang bersikukuh menjadi presiden lewat pilihan rakyat dalam pemilu akhir 2012.
Mendengar pidato tersebut, orang-orang yang menentangnya dan berkumpul di depan istana mempertanyakan legitimasi yang dimaksud Mursy.
“Legitimasi apa? Lihat di sekitar, lihat jutaan orang di Kairo dan gubernuran,” katanya merujuk pada demonstrasi massa anti-Mursy.
Militer Mesir hari Senin (1/7/2013) mengeluarkan ultimatum 48 jam untuk Mursy dan partai politik agar segera menyelesaikan perbedaan di antara mereka. Namun, militer tidak menjelaskan apa yang akan dilakukan jika ultimatum itu habis masanya.
Sementara itu kantor berita Reuters, yang mengaku mendapat bocoran tentang ultimtum itu, melaporkan hari Selasa bahwa militer akan membubarkan sisa-sisa parlemen yang ada jika ultimatum tidak dilaksanakan. Majelis rendah parlemen Mesir hasil pemilu 2012 telah dibubarkan oleh pengadilan dan menunggu pemilihan baru.
Hari Selasa Mursy bertemu dengan Jenderal Abdul Fattah al-Sisi menteri pertahanan sekaligus pimpinan angkatan bersenjata. Pihak kepresidenan mengaku tidak mengetahui adanya ultimatum itu sebelum diumumkan ke publik.
Mursy meminta pendukungnya membatalkan seruan “jihad”. Dia mengatakan bahwa jihad hanya diperlukan untuk melawan musuh negara dari luar negeri.
Mursy mengatakan pula bahwa dia “bersedia mengorbankan darahnya untuk mempertahankan stabilitas dan keamanan negaranya.”
Pernyataan terakhir Mursy itu ditafsirkan oposisi sebagai genderang perang melawan mereka.
Khaled Daoud jurubicara Front Keselamatan Nasional menyebut hal itu jelas-jelas “menyulut perang sipil.”
Menyusul demonstrasi besar 30 Juni lalu, Mursy terus kehilangan pembantu-pembantunya di pemerintahan.
Menteri Luar Negeri Kamel Amr mengajukan pengunduran diri, menyusul 6 menteri lain yang lebih dulu mundur dalam kurun waktu 48 jam setelah demonstrasi akhir Juni. Dua jurubicara Mursy juga mengundurkan diri.
Hari Senin penasehat militer presiden, Sami Enan, mundur dan mengatakan bahwa tentara tidak akan mengabaikan keinginan rakyat.
Menurut sejarawan dan aktivis mesir Khaled Fahmy, satu-satunya pendukung Mursy hanyalah Al-Ikhwan al-Muslimun.
“Orang-orang mulai meninggalkan kapal,” katanya mengumpamkan Mursy yang perlahan tapi pasti kehilangan dukungan banyak orang. Demikian dilansir Aljazeera Rabu (3/7/2013).*