Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

AS Pun Pernah Mencap Mandela sebagai Teroris

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 6 Desember 2013 16:11 4:11 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 6 Desember 2013 16:11
Bagikan
Pejuang anti-apartheid dan mantan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela.
Bagikan

Hidayatullah.com–Pada tahun 2008, tak lama sebelum Nelson Mandela merayakan ulang  tahun ke-90, Amerika Serikat memberikan hadiah khusus padanya berupa dicabutnya ia dari daftar pengawasan teror selama berpuluh-puluh tahun,  yang disebut para pejabat AS sebagai “masalah yang agak memalukan”.

Pada saat itu, tokoh anti-pembedaan etnis tersebut telah sekian lama meninggalkan penjara tempat ia menjalani tahanan selama 27 tahun. Ia pun sudah menikmati masa pensiun dan menyandang status sebagai salah satu negarawan paling dihormati di abad ke-20 setelah menjadi presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan.

Pada Kamis (5/12/2013), ketika Mandela wafat dalam usia 95 tahun, Presiden Barack Obama memberikan pujian terhadapnya dan memerintahkan agar semua bendera AS di gedung pemerintahan dikibarkan.

Pengibaran bendera setengah tiang itu merupakan hal yang jarang dilakukan AS dalam menghormati pemimpin asing.

Namun, puluhan tahun lalu banyak pihak di Amerika yang tidak sepakat dengan pujian tinggi bagi Mandela dan Kongres Nasional Afrika (ANC) yang dipimpinnya.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

ANC sebelumnya dinyatakan sebagai organisasi teroris, baik oleh Afrika Selatan maupun Amerika Serikat.

Kritikus sayap-kanan paling pedas melukiskannya sebagai seorang teroris yang tidak mau bertobat serta seorang simpatisan komunis.

Bahkan ada laporan yang mengatakan bahwa CIA telah membantu rekayasa penahanan Mandela pada tahun 1962 ketika seorang agen di dalam ANC memberikan informasi kepada para pejabat keamanan Afrika Selatan untuk melacaknya.

Namun demikian, pada tahun 1980-an, mendiang senator Demokrat AS Ted Kennedy menyusun undang-undang bersama senator Lowell Weicker yang akhirnya menjadi salah satu katalisator yang mengarah pada runtuhnya sistem pembedaan ras (apartheid).

Presiden Ronald Reagan berupaya untuk mengubur undang-undang anti-pembedaan ras tahun 1986 yang ditujukan untuk menerapkan sanksi ekonomi terhadap Afrika Selatan dengan menggunakan hak vetonya.

Reagan meyakini undang-undang itu hanya akan mengarah pada kekerasan yang lebih parah serta penindasan terhadap rakyat Afrika Selatan.

Namun untuk pertama kalinya dan hanya satu-satunya yang dilakukan pada abad tersebut, Kongres AS memberontak dan mengesampingkan veto Reagan menyangkut masalah kebijakan luar negeri.

Kongres tetap mengesahkan undang-undang yang menjatuhkan sanksi terhadap Pretoria, memutus penerbangan langsung, serta memotong bantuan penting.

Sejumlah pengamat melihat, pembebasan Mandela merupakan kebenaran yang tidak dapat dipungkiri menyangkut perkaranya dan memberikan pelajaran unik bagi Washington.

Dilaporkan Antara, hingga lima tahun lalu, Mandela dan beberapa anggota ANC masih berada dalam daftar pengawasan teror AS karena perjuangan bersenjata yang mereka lancarkan terhadap rezim apartheid.

Penyebutan itu berarti bahwa Departemen Luar Negeri AS harus mengeluarkan surat pengabaian untuk memasuki AS untuk tujuan menghadiri berbagai pertemuan seperti Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Mantan Menteri Luar Negeri AS Condoleeza Rice menganggap pengabaian itu sebagai tindakan yang “memalukan.”*

 

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya BKLDK Sebut Tiga Keganjilan Penundaan Jilbab Polwan
Tulisan selanjutnya Amerika “Sadap” Miliaran Ponsel Seluruh Dunia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina

Berita
20 Juli 2026 17:00
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah

Terbaru

  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?