Hidayatullah.com | Sahabat al Aqsha–Hingga Rabu (05/03/2014), pihak berwenang Mesir masih menutup total gerbang perbatasan Rafah. Hal ini menyebabkan warga Gaza termasuk ratusan mahasiswa dan pasien medis tidak bisa keluar masuk Gaza. Penutupan gerbang Rafah telah berlangsung selama tiga minggu berturut-turut. Menurut Kementerian Dalam Negeri Gaza, perbatasan Rafah hanya dibuka selama sembilan hari sejak awal 2014.
Pejabat Mesir mengizinkan jama’ah umrah untuk melewati perbatasan Rafah satu kali dalam seminggu, tetapi tidak mengizinkan warga lain untuk melewatinya termasuk yang sedang sakit dan butuh pertolongan medis.
Meski telah berjanji untuk membuka gerbang Rafah selama empat jam dalam sehari, pada kenyataannya petugas perbatasan Rafah sering membuat-buat alasan untuk menutup gerbang selama berhari-hari. Salah satu alasan yang sering dikemukakan adalah komputer di perbatasan sedang rusak. Ini menyebabkan kemarahan penduduk Gaza yang bahkan menawarkan komputer mereka secara gratis agar tidak ada lagi alasan komputer rusak.
Sejak pengepungan zionis atas Gaza, penyeberangan Rafah di perbatasan Mesir dan Gaza yang berjarak sekitar enam jam perjalanan dari bandara Kairo adalah satu-satunya titik keluar masuk bagi sekitar 1,8 juta warga Gaza. Mesir menutup penyeberangan Rafah setelah kudeta militer pada 3 Juli 2013 terhadap presiden terpilih Muhammad Mursi.
Mesir telah sering menutup gerbang Rafah sejak kudeta Mesir terjadi. Ratusan terowongan yang digunakan warga Gaza selama bertahun-tahun untuk mengimpor bahan bakar, bahan bangunan, dan barang kebutuhan lainnya juga dihancurkan rezim Mesir. *