Hidayatullah.com—Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa secara bulat setuju untuk membentuk pasukan penjaga perdamaian PBB yang akan dikirim ke Republik Afrika Tengah guna menghentikan bentrokan antara warga Kristen dan Muslim yang berubah menjadi genosida.
Pasukan itu, yang disetujui 15 negara anggota DK-PBB hari Kamis (10/4/2014), akan dinamai MINUSCA dengan kekuatan 10.000 personel militer, 1.800 polisi dan 20 petugas koreksi.
Pasukan perdamaian PBB itu akan mengambil alih otoritas keamanan pada 15 September mendatang dari pasukan MISCA kiriman negara-negara Uni Afrika berkekuatan 5.600 yang ditugaskan sejak Desember tahun lalu.
DK-PBB ingin agar pasukan perdamaian PBB terdiri dari sebanyak mungkin anggota militer dan polisi MISCA, lapor Associated Press dilansir Aljazeera.
Keputusan DK-PBB itu juga memberikan wewenang kepada pasukan Prancis, negara bekas penjajah Afrika Tengah, untuk “menggunakan semua cara yang diperlukan” guna mendukung pasukan perdamaian PBB.
Berbicara kepada Aljazeera dari London, Christian Mukosa dari Amnesty International mengatakan, masalah besarnya adalah bagaimana mengisi kekosongan antara sekarang dengan bulan September mendatang.
“Itu mengapa menurut kami PBB harus memastikan bahwa pasukan Uni Afrika dan pasukan Prancis dipersenjatai cukup dan mendapat dukungan logistik yang cukup untuk melindungi rakyat sipil,” kata Mukosa.
Kekacauan di Afrika Tengah terjadi sejak Maret 2013 setelah kelompok penentang rezim –kebanyakan Muslim– mengambil alih kekuasaan pemerintah. Kemudian kelompok bersenjata Kristen, agama yang dianut mayoritas penduduk, menyerang benteng pertahanan kelompok Muslim itu awal Desember 2013.
Seiring dengan runtuhnya kekuasaan yang baru dipegang kelompok Muslim, kelompok Kristen semakin membabi-buta melancarkan serangan terhadap warga Muslim, yang merupakan warga minoritas di Afrika Tengah. Akibatnya, banyak warga Muslim tewas dan puluhan ribu lainnya terpaksa meninggalkan rumah-rumah mereka untuk mengungsi menyelamatkan diri dari kejaran kelompok Kristen.
Cyrius Zemangui-Kette, 25, seorang pengangguran, mengatakan bahwa pasukan PBB seharusnya dikirim sejak kemarin-kemarin. Namun, masyarakat internasional menunda-nundanya sehingga keadaan semakin parah.
“Mereka bilang akan datang September,” ujarnya.
“Sampai ketika itu, orang-orang Afrika Tengah yang tewas terus bertambah, jadi siapa yang akan mereka selamatkan?”, sindir Yousouf Adam, 45 seorang pedagang Muslim. Dia memuji rencana PBB untuk mengirimkan pasukan perdamaian, namun menurutnya masih ada cara lain untuk menyelesaikan konflik di negara itu.
Dengan dibentuknya MINUSCA, maka pasukan Uni Afrika di lapangan akan mendapat dukungan logistik dari PBB.
Philippe Bolopion, direktur PBB untuk Pengawas HAM, mendesak negara-negara anggota PBB untuk segera merealisasikan pasukan perdamaian itu di lapangan.*