Hidayatullah.com–Tokoh Kurdi yang sedang dipenjara, Abdullah Ocalan, mengatakan perang yang dilakoni gerakannya selama 30 tahun dengan pemerintah Turki hampir berakhir dengan dilakukannya negosiasi demokratis, lapor kantor berita Firatnews dikutip Reuters.
Ankara memulai perundingan damai dengan pemimpin Kurdi itu pada 2012 guna mengakhiri 30 tahun perlawanan Kurdi yang telah menewaskan 40.000 orang.
“Perang 30 tahun ini hampir menemui akhirnya melalui negosiasi-negosiasi demokratis,” kata Ocalan kepada anggota parlemen pro-Kurdi yang mengunjunginya di penjara pada 15 Agustus kemarin dalam rangka peringatan berdirinya Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang dibentuk Ocalan, lapor Firatnews Sabtu (16/8/204).
PKK menangkat senjata melawan Turki tahun 1984 dengan tujuan ingin memisahkan diri dan mendirikan negara berdaulat bagi suku Kurdi. Namun, kemudian mereka menurunkan perlawanannya dengan meminta agar diberikan peran politik yang lebih leluasa dan hak-hak budaya bagi suku Kurdi di dalam negera Turki.
Ocalan menyebut proses perdamaian dengan Ankara itu bisa menjadi contoh dari resolusi damai dalam menuntaskan masalah-masalah serius di kawasan tersebut.
Pernyataan Ocalan itu dikeluarkan sepekan setelah PM Recep Tayyip Erdogan terpilih sebagai presiden baru Turki yang akan menggantikan Abdullah Gul.*