Hidayatullah.com–Syeikh Ali Ahmad Thaha Rayan, anggota Kibar Ulama Al Azhar mengisahkan bahwa kegagalan beliau dalam ujian materi Bahasa Arab justru berdampak positif.
Saat menjelaskan masalah iman kepada taqdir yang baik buruk maupun baiknya seluruhnya dari Allah, menurut ulama Madzhab Maliki ini, ridha terhadap taqir merupakan bagian dari keimanan terhadapnya. Beliau juga menyampaikan bahwa bisa jadi Allah memberikan kebaikan atas cobaan tersebut sebagaimana apa yang beliau alami sendiri. Hal itu disampaikan pada kajian kitab Syarh Al Mukhtashar Al Khalil di Masjid Al Azhar pada Selasa (26/8/2014), dimana Hidayatullah.com ikut hadir dalam majelis tersebut.
Profesor fiqih perbandingan ini pun berkisah mengenai pengamalan di masa pendidikan beliau di tingkat tsanawiyah Al Azhar, dimana beliau selalu memperoleh rangking satu. Namun pada saat ujian masuk Universitas Al Azhar beliau bersama teman-teman satu kelas lainnya memilih jurusan Bahasa Arab, teman-teman Syeikh Thaha Rayan diterima di Fakultas tersebut, namun beliau tidak diterima karena tidak lulus dalam materi insya (mengarang), meski materi lainnya seperti nahwu dan balaghah lulus. Itulah yang menyebabkan beliau akhirnya memilih masuk ke Fakultas Syari’ah.
Setelah lulus, teman-teman Syeikh Thaha Rayan mengajar di berbagai daerah dan sibuk dengan tugas mereka masing-masing, hanya tinggal Syeikh Thaha Rayan yang masih berada di Kairo. “Ada tawaran pendidikan master saya ikuti, ada tawaran tawaran doktoral saya ikut, sehingga tidak ada yang sampai tingkat doktoral dari teman-teman satu kelas kecuali hamba faqir ini”, Ucap Syeikh Thaha Rayan.
Syeikh Thaha Rayan kemudian mengisahkan bahwa ketika bertemu, teman-teman beliau pun bertanya,”Bagaimana engkau bisa jadi seperti ini?” Syeikh Thaha Rayan pun menjawab,”Karena gagal dalam materi insya’.” Mendengar penurutan itu, sontak para hadirin yang kebanyakan dari penuntut ilmu madzhab Maliki dari Afrika yang hadir di majelis tersebut pun tertawa.
Setelah itu, Syeikh Thaha Rayan pun memberikan nasihat kepada para orang tua yang putranya tidak lulus, untuk tidak berkecil hati. Karena bisa Allah menjadikan cobaan itu sebagai pintu untuk memperoleh kenikmatan.