Hidayatullah.com—Robert Mugabe, pejuang kemerdekaan Zimbabwe yang kemudian menjadi presiden dan terakhir penguasa otoriter, meninggal dunia hari Jumat (6/9/2019) di Singapura dalam usia 95 tahun.
Mugabe dirawat di sebuah rumah sakit di Singapura sejak April. Dia dipaksa turun dari jabatannya pada 2017 setelah berkuasa selama 37 tahun.
Mugabe dipuji karena memberikan akses pendidikan dan kesehatan kepada warga mayoritas kulit hitam.
Namun, beberapa tahun terakhir kekuasaannya dia justru bertangan besi menghadapi lawan-lawan politiknya dan kebijakannya dinilai menggiring negara itu kepada krisis ekonomi. Tidak hanya itu, dia dan istrinya dituduh menggelapkan uang negara.
Pengganti Mugabe, Emmerson Mnangagwa mengumumkan kematian bekas presiden itu lewat Twitter. Dia mengutarakan kesedihan mendalam atas kepergian Mugabe, yang disebutnya sebagai bapak pendiri Zimbabwe dan “ikon pembebasan,” lapor BBC.
Mugabe dilahirkan pada 21 Februari 1924 di Zimbabwe yang dulu masih bernama Rhodesia, sebuah koloni Inggris yang diperintah oleh minoritas kulit putih.
Setelah mengkritik pemerintah Rhodesia pada tahun 1964 dia dijebloskan ke penjara selama lebih dari satu dekade tanpa melalui proses pengadilan.
Pada tahun 1973, ketika masih mendekam di penjara, Mugabe ditunjuk sebagai presiden Zimbabwe African National Union (Zanu), yang dia adalah salah satu pendirinya.
Begitu keluar penjara, Mugabe langsung pergi ke Mozambique. Dari sana dia memimpin serangan gerilya ke Rhodesia. Dia juga dikenal sebagai negosiator ulung. Lewat kesepakatan politik akhirnya melahirkan negara Zimbabwe merdeka.
Dengan pamor sebagai pejuang kemerdekaan, Mugabe berhasil memenangkan pemilihan presiden pertama pada tahun 1980.
Sayang, di masa-masa akhir kepemimpinannya, citranya sebagai pejuang dan pemimpin yang memperjuangkan hak-hak mayoritas kulit hitam akhirnya rusak akibat berbagai tuduhan korupsi dan sikap sewenang-wenangnya.
Oleh karena tidak lagi dianggap layak memimpin Zimbabwe, militer akhirnya memaksa Mugabe turun dari pada tahun 2017. Kursi kepresidenan lantas beralih kepada wakilnya, Emmerson Mnangagwa.*