Hidayatullah.com—Sedikitnya 23.000 orang lari menyelamatkan diri dari kekerasan di bagian barat daya Nigeria ke negara tetangga Niger dalam beberapa pekan terakhir, kata organisasi urusan pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa UNHCR.
Para pengungsi itu kebanyakan wanita dan anak-anak, yang diperbolehkan mencari perlindungan di Niger meskipun perbatasan ditutup akibat pandemi Covid-19, kata UNHCR hari Selasa (12/5/2020) seperti dilansir BBC.
UNHCR juga mengatakan selain itu ada 19.000 warga Niger di Maradi, wilayah bagian selatan, menjadi pengungsi di negeri mereka sendiri karena “takut dan melarikan diri dari gangguan keamanan yang sama di daerah sekitar perbatasan.”
“Mereka yang menyelamatkan diri bicara soal kekerasan ekstrim terhadap warga sipil, pembunuhan, penculikan demi uang tebusan, perampokan dan penjarahan di desa-desa,” kata UNHCR dalam pernyataannya.
Jumlah warga yang lari menyelamatkan diri naik hampir tiga kali lipat dari tahun lalu, ketika organisasi di bawah PBB itu untuk pertama kali melaporkan gelombang 20.000 orang meninggalkan desa mereka disebabkan aksi-aksi bandit di bagian utara Nigeria yang menewaskan ratusan orang dan membuat ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal.
Sejak April tahun lalu hingga saat ini jumlah total orang yang mengungsi dari Nigeria sudah melebihi 60.000.
Kekerasan maut terakhir yang menyebabkan puluhan ribu orang meninggalkan kampung halaman di Nigeria mereka terjadi di negara bagian Katsina, Sokoto dan Zamfara, kata UNHCR.
Kekerasan di Katsina merenggut nyawa 47 warga setempat, imbuhnya.
Kekerasan itu membuat pasukan keamanan Nigeria bertindak melancarkan serangan udara, meskipun tentara sudah kewalahan menghadapi gelombang serangan kelompok Boko Haram di bagian timur laut Nigeria.
Niger juga disibukkan dengan kelompok bersenjata yang beroperasi di sekitar Danau Chad, yang juga merupakan perbatasan wilayah negara Kamerun, Chad, Niger dan Nigeria.*