Hidayatullah.com—Amerika Serikat dan Selandia Baru melakukan serangkaian tes rahasia “bom tsunami” yang dirancang untuk menghancurkan kota-kota di pesisir pantai, dengan menggunakan ledakan di bawah laut yang dapat memicu gelombang pasang besar.
Percobaan yang dilakukan di perairan sekitar Kaledonia Baru dan Auckland saat Perang Dunia Kedua itu menunjukkan bahwa sebuah senjata bisa melancarkan serangan terdiri dari 10 ledakan di lepas pantai yang dapat menciptakan gelombang tsunami setinggi 33 kaki sehingga meluluhlantakkan sebuah kota kecil.
Percobaan rahasia itu diberi kode ‘Project Seal’. Sekitar 3.700 bom diledakkan selama percobaan, pertama di Kaledonia Baru dan kemudian di Semenanjung Whangaparaoa, dekat Auckland.
Informasi itu ditemukan saat seorang penulis dan pembuat film Selandia Baru Ray Waru, meneliti file-file militer yang terkubur di arsip nasional.
“Mungkin, jika bom atom tidak bekerja sebaik yang sudah ditunjukkannya, kita mungkin sudah men-tsunami orang,” kata Waru, dikutip The Telegraph (1/1/2013).
“Ini sangat mengejutkan. Pertama adakah orang yang punya ide membuat senjata pemusnah massal berdasarkan tsunami … dan mengetahui bahwa Selandia Baru sepertinya sudah sukses membuat senjata itu sampai ke tingkat kemungkinan bisa berfungsi,” kata Waru.
Proyek itu diluncurkan pada bulan Juni 1944, setelah pejabat angkatan laut Amerika Serikat EA Gibson menyatakan bahwa aktivitas peledakan untuk membersihkan koral laut di kepulauan-kepulauan Pasifik kadangkala menciptakan gelombang besar. Hal ini menimbulkan dugaan akan kemungkinan penciptaan bom tsunami.
Waru mengatakan percobaan pertama hasilnya positif namun akhirnya dihentikan pada awal tahun 1945, meskipun pihak berwenang Selandia Baru terus memberikan laporan percobaan itu sampai tahun 1950an. Para pakar menyimpulkan, satu kali ledakan tidak cukup kuat dan bom tsunami yang sukses membutuhkan sedikitnya 2 juta kilogram bahan peledak yang disusun dalam satu garis sekitar lima mil dari tepi pantai.
“Jika anda memasukkannya dalam film James Bond maka hal itu akan kelihatan seperti fantasi, padahal sebenarnya nyata,” kata Waru.
“Saya hanya melihatnya sekilas karena mereka masih memeriksa laporan itu, jadi itu ada di meja seseorang [dalam arsip].”
Empat puluh tahun setelah percobaan bersama itu, hubungan kerjasama Selandia Baru dengan Amerika Serikat putus, sebab negara tersebut melarang kapal bersenjata nuklir AS memasuki wilayah perairannya selama tahun 1980an. Akibatnya, Amerika Serikat menurunkan status Selandia Baru yang semula sebagai “sekutu” menjadi hanya “teman” saja.
Dalam buku barunya berjudul “Secrets and Treasures” Waru mengungkapkan temuan tidak biasa lainnya yang didapat dari arsip Departemen Pertahanan Selandia Baru. Temuan itu berupa catatan laporan penampakan UFO yang dilihat warga masyarakat, anggota militer dan pilot komersial.
Sebagian orang mengaku melihat UFO di angkasa dalam bentuk piring terbang, alien yang mengenakan topeng Firaun dan contoh tulisan dari makhluk luar angkasa.*