Hidayatullah.com—Sekitar 20 mahasiswa pengunjuk rasa yang menentang pencalonan kembali Pierre Nkurunziza sebagai presiden untuk periode ketiga berhasil memanjat pagar Kedutaan Besar Amerika Serikat di Burundi, setelah polisi mengancam akan membubarkan paksa kamp demonstrasi mereka.
Anggota marinir AS bersenjata tampak mengamati dari atas atap gedung kedutaan ketika ratusan mahasiswa yang mencari perlindungan itu memanjat pagar dan dinding pada hari Kamis (25/6/2015), lalu duduk dengan mengangkat kedua tangannya sesampainya mereka di dalam area kedutaan.
Staf kedutaan mendesak agar pemerintah mencari solusi damai atas masalah itu. Namun, Dubes AS Dawn Liberi kemudian berhasil meyakinkan para mahasiswa itu untuk meninggalkan area kedutaannya dengan aman. Sebagian dari mereka kembali ke kamp demonstran yang ada dekat Kedutaan AS.
“Dubes AS datang menemui kami dan mengatakan kepada kami bahwa dia telah melakukan segalanya untuk membantu kami, tetapi kami tidak bisa bermalam di kedutaan,” kata salah seorang mahasiswa yang mengaku bernama Fabrice seperti dikutip BBC.
Ibukota Burundi, Bujumbura, bergejolak sejak akhir April lalu, ketika Nkurunziza mengumumkan keputusan kontroversial bahwa dirinya akan mencalonkan diri lagi sebagai presiden untuk periode ketiga berturut-turut. Padahal, menurut konstitusi jabatan presiden berturut-turut maksimal 2 periode saja. [Baca juga berita sebelumnya: Wakil presiden Burundi kabur tinggalkan negaranya].*