Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Iraq Gantung 36 Terpidana Pembunuhan Massal di Kamp Spreicher

Ama Farah
Terakhir diupdate: 22 Agustus 2016 06:37 6:37 am
Ama Farah
Dipublikasikan 22 Agustus 2016 06:37
Bagikan
Kuburan korban pembunuhan di Kamp Spreicher, Iraq, tahun 2014.
Bagikan

Hidayatullah.com—Iraq telah mengeksekusi mati di tiang gantungan 36 orang yang dinyatakan bersalah atas pembunuhan hingga 1.700 calon tentara di Kamp Spreicher, bekas pangkalan militer Amerika Serikat, pada 2014.

Pembunuhan massal di Kamp Spreicher, yang terletak dekat Tikrit, itu dilakukan oleh militan ISIS ketika akan menguasai wilayah di bagian utara Iraq tersebut.

Kemarahan masyarakat atas pembunuhan itu, yang kebanyakan korban adalah kadet-kadet penganut Syiah, mendorong mobilisasi milisi-milisi Syiah Iraq untuk memerangi ISIS bersama dengan tentara pemerintah.

[FOTO] Pasukan Syiah Iraq dan “Bendera Hitam ISIS”

ISIS merekam pembunuhan yang dilakukannya di Kamp Spreicher pada 2014. Kuburan massal ditemukan setahun kemudian.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Keberadaan kuburan itu terungkap ketika pasukan pemerintah Iraq berhasil menguasai kembali daerah tersebut.

“Eksekusi atas 36 terpidana terkait kejahatan di Spreicher dilaksanakan pagi ini di penjara Nasiriyah,” kata seorang juru bicara dari kantor pemerintah di Dhiqar, provinsi yang beribukotakan Nasiriyah, kepada kantor berita AFP seperti dilansir BBC.

Sekitar 400 kadet yang tewas berasal dari Provinsi Dhiqar.

Juru bicara itu mengatakan Menteri Kehakiman Haidar Al-Zamili hadir dalam pelaksanaan eksekusi tersebut.

Bulan lalu, setelah terjadi pemboman besar di Baghdad, yang menewaskan lebih dari 300 orang, PM Haider Al-Abadi mengatakan ingin mempercepat pelaksanaan eksekusi para terpidana terorisme.

Mereka yang dieksekusi hari Ahad (21/8/2016), semuanya diyakini berkewarganegaraan Iraq. Mereka divonis hukuman mati pada bulan Februari.

Sebagian dari terdakwa ketika itu mengatakan mereka bahkan tidak berada di dekat Tikrit saat pembunuhan massal itu terjadi. Sementara lainnya mengatakan tidak diberi kesempatan untuk mendapatkan pengacara atau dipaksa untuk mengaku lewat penyiksaan.

Nama Kamp Spreicher yang disematkan atas pangkalan itu oleh Amerika Serikat diambil dari nama Kapten Michael Scott Spreicher, tentara AS pertama yang tewas dalam misi pertempuran “Badai Gurun” tahun 1991 di Iraq. Tempat itu semasa pemerintahan Saddam Hussein disebut sebagai Pangkalan Udara Al-Sahra. Di sana sejak dulu banyak terdapat kadet militer Iraq.

Kamp itu jatuh ke tangan ISIS setelah dikepung oleh militan.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Presiden Filipina Tantang PBB Menghitung Jumlah Korban Tak Berdosa Akibat Narkoba
Tulisan selanjutnya Korban Bom di Pesta Pernikahan Turki Jadi 50 Orang

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif

Berita
14 Juli 2026 15:30
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?