Hidayatullah.com–Para wanita di Arab Saudi tidak diperbolehkan mengemudi, menyebabkan mereka bergantung pada saudara laki-laki, orang tua agar dapat pergi ke toko, sekolah ataupun pergi ke tempat kerja.
Namun perkembangan yang cepat dalam beberapa tahun terakhir ini menyebabkan wanita Saudi lebuh banyak mengandalkan layanan transportasi online.
Dua perusahaan taksi swasta —Uber dan Careem– belakangan telah menguasai pasar transportasi Saudi dan saat ini merupakan kekuatan yang tidak dapat dihentikan.
Kedua perusahaan taksi berbasis aplikasi itu lebih dapat diterima oleh para wanita dan lebih aman daripada taksi publik.
“Ayahku tidak akan menjemput dan sebagainya untuk bekerja. Dia juga tidak memperbolehkan saudara-saudara perempuanku menggunakan taksi publik. Hanya dengan Uber aku dapat benar-benar pergi bekerja, sehingga aku dapat terus-menerus bekerja dan mendapatkan pemasukan,” kata Salma Rashid, seorang pedagang berumur 26 di Jeddah.
Ketika Uber diluncurkan di Riyadh pada awal 2014, dampaknya melampui yang diperkirakan. Perusahaan itu telah menciptakan perbedaan yang nyata bagi mobilitas wanita Saudi.
Pada Desember, entrepreneur dan advokat kesehatan Putri Reema bin Bandar Al Saudi akan menyelenggarakan 10KSA, sebuah event edukasi dan sosialisasi bahaya kanker payudara yang bertujuan mengumpulkan di satu tempat lebih dari 10.000 wanita Saudi untuk pertama kalinya dalam sejarah kerajaan tersebut.
Uber merupakan sponsor event tersebut, dan Putri Reema telah meminta disediakannya 2.000 mobil pada hari itu untuk membantu memastikan sebanyak mungkin wanita dapat menghadiri acara itu.
Tetapi pelayanan Uber sudah menjadi sumber daya harian bagi wanita di negara itu – Manajer Umum Uber Saudi Majed Abukhater mengatakan pihaknya tidak mencatat secara tepat data jenis kelamin pengguna, tetapi menurut pengamatan dan bukti anekdot memperlihatkan bahwa lebih dari 70-90% pengguna Uber Saudi merupakan wanita.
“Banyak dari mereka, dapat saya katakan, merupakan wanita muda,” kata Abukhater.
“Kami mempunyai beberapa data yang menunjukkan para wanita ini mulai mengandalkan Uber lebih dari kebutuhan sehari-hari mereka; perbandingan perjalanan yang kami lihat di Saudi selama hari kerja ke lokasi lain relatif tinggi. Itu hanya salah satu jenis indikator yang memberitahukan kita bahwa wanita mulai mengandalkan Uber sehari-hari dalam perjalanan bekerja, ke sekolah, atau ke universitas.”
Terhitung hanya 13% dari tenaga kerja Saudi merupakan wanita, tetapi wanita merupakan 60% dari populasi mahasiswa Saudi, jadi ini bukan merupakan jumlah tidak signifikan dari perjalanan sehari-hari.
“Saya menggunakan Uber setiap kali di Riyadh, untuk sampai ke dan dari bandara, untuk pergi rapat, atau untuk mengunjungi teman,” kata Shahd AlShehail, seorang wanita berkebangsaan Saudi yang tinggal di Dubai tetapi seringkali pulang ke Saudi untuk mengunjungi keluarga atau urusan pekerjaannya sebagai pendiri Just, sebuah laman sosial yang membantu menyediakan data dan dongeng.
“Banyak temanku yang menggunakannya, keluarga juga. Biasanya untuk pergi bekerja, menjalankan tugas, atau melakukan pertemuan sosial.”
Sebelum Uber masuk ke negara itu – Uber saat ini beroperasi di Jeddah dan Dammam, serta di Riyadh – para wanita bergantung pada supir pribadi (jika mereka dapat menyewa mereka) atau perusahaan limosin yang saat ini bekerja sama dengan Uber (untuk alasan regulasi, Uber di Arab Saudi tidak bekerja dengan supir yang telah dikontrak yang menggunakan mobil mereka sendiri – semua supir Uber berasal dari perusahaan yang telah ada).
“Tetapi waktu tunggu dapat mencapai setengah jam,” kata Abukhater. “Terkadang perusahaan transportasi ini dapat sepenuhnya dipesan. Wanita dapat benar-benar, dalam beberapa situasi, tidak dapat ke mana-mana. Saat ini kami telah menambahkan teknologi lapis ini ke dalam infrastruktur transportasi yang sudah ada, para wanita tidak harus menelfon 10, 20 perusahaan untuk menemukan seorang supir. Mereka hanya tinggal membuka aplikasinya. Itu mengapa kami telah melihat perkembangan yang telah kami ingin.”
AlShehail menyetujui hal itu: “Sebelum memiliki pelayanan transportasi pesanan, pilihannya hanya terbatas, memiliki supir pribadi atau menyewa supir untuk sehari. Keduanya sangat tidak fleksibel – dan belakangan seringkali tidak dapat diandalkan atau sangat mahal, kata dia. Satu hal yang dia harap dari Uber jika dapat meningkatkan pelayanannya ialah “memperluas armada mereka.”
Wanita-wanita ini mulai mengandalkan Uber lebih dari kebutuhan perjalanan sehari-hari mereka.*/Nashirul Haq AR (Bersambung)