Hidayatullah.com–Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan membantah tuduhan beberapa pihak yang mengatakan bahwa Tentara Pembebasan Suriah (FSA) adalah kelompok “teroris” sebagaimana sering disampaikan milisi Syiah Iran dan Rusia.
Berbicara di dewan hubungan ekonomi luar Turki di Istanbul belum lama ini, Erdogan mengatakan tentara Turki kini dibantu oleh FSA dalam operasi militer “Dar’il Furat” (operasi militer Turki di Suriah melawan ISIS dan pemberontak Kurdi) di kota Jarabulus dan daerah perkampungan Aleppo.
Menurutnya, FSA adalah tentara independen yang mewakili kelompok oposisi dan pembebasan di Suriah yang berusaha membebaskan Suriah dan tidak terkait kelompok teroris.
“Turki telah mengadakan serangkaian pelatihan dengan FSA untuk menciptakan wilayah yang aman dari ancaman terorisme termasuk Rusia, AS dan Iran,” katanya dikutip Birgun Daily.
Mengomentari operasi Dar’il Furat, Erdogan mengatakan pasukannya telah sampai ke kota Al-Bab di utara Suriah dan menguasai seluruh kota dan menjaga populasi.
Katanya, militer Turki akan berada di semua tempat yang terkena kezaliman terutama di kota Manbij dan Raqqah.
Sejauh ini, operasi Dar’il Furat telah berhasil membersihkan daerah perbatasan dari kelompok DAESH (ISIS).
Milisi Sunni
Sebagaimana diketahui, pada November 2012, dewan sepakat untuk menyatukan dengan beberapa kelompok oposisi lainnya untuk membentuk Dewan Nasional Suriah (Syrian National Council/SNC), dewan ini memiliki 22 dari 60 kursi di Koalisi Nasional Suriah. Mereka dibentuk dari beragam kelompok mulai dari sekuler hingga Islam.
Di antara dua faksi ini terdapat Free Syrian Army atau Tentara Pembebasan Suriah (FSA). FSA dalam Bahasa Arabnya Jaysul Hur, adalah adalah struktur oposisi utama bersenjata yang beroperasi di Suriah yang dibentuk sejak Rezim Bashar al Asaad memulai menyerang rakyatnya sendiri saat dimulainya aksi unjuk rasa menuntut perobahan.
Mereka terdiri dari para relawan dan personel Angkatan Bersenjata Suriah yang membelot. Pemimpin FSA pada bulan Agustus 2011 adalah Kolonel Riad al-Asaad, kala itu, mengumumkan bekerja sama dengan demonstran untuk segera menurunkan sistem, karena beralasan tindakan Bashar menurunkan pasukan menyerang warga sipil menjadi sasaran adalah hal yang tidak dibenarkan.
FSA beroperasi di seluruh Suriah, baik di daerah perkotaan maupun di pedesaan. Di barat laut (Idlib, Aleppo), wilayah tengah (Homs, Hama, dan Rastan), pantai sekitar Latakia, selatan (Daraa dan Houran), timur (Dayr al-Zawr, Abu Kamal), dan daerah Damaskus. Menurut sumber media, diperkirakan ada 15.000 – 25.000 pembelot dari angkatan bersenjata Suriah yang bergabung dengan FSA.
Para milisi pembebasan dan kelompok oposisi serta para mujahidin inilah yang sering disebut Bashar,Rusia dan milisi Syiah dukungan Iran sebagai “teroris” atau “takfiri”.
Sarah Dean, wakil editor, Daily Mail Australia dan editor di The Huffington mengatakan, “teroris” dan “takfiri” adalah istilah yang kerap digunakan kelompok Syiah menyebut kelompok mujahidin dari Sunni.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel al-Jubeir, dalam pidatonya di depan Majelis Umum PBB menyebut kejahatan Bashar al-Assad, Rusia, milisi Syiah Iran dan Hizbullah Lebanon –yang telah mengebom wanita dan anak-anak hingga membuat lebih 400 ribu warga sipil Suriah telah tewas dan 4 juta lain menjadi pengungsi– sebagai ‘operator mesin pembunuh terhadap rakyatnya sendiri’.*/Nashirul Haq AR