Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Apa Salah Fir’aun

Masykur Abu Jaulah
Terakhir diupdate: 29 Desember 2016 11:29 11:29 am
Masykur Abu Jaulah
Dipublikasikan 29 Desember 2016 11:29
Bagikan
ilustrasi
Bagikan

JIKA boleh bertanya, kira-kira apa yang menghalangi Firaununtuk menerima dakwah yang diserukan Nabi Musa?

Apa salah Firaun hingga dakwah itu tak sampai menjamah hatinya?

Sebagaimana Abu Thalib, Abu Lalab, dan paman-paman Nabi Muhammad yang tak kunjung beriman hingga ajal menjemput mereka. Atau bahkan Iblis yang menolak bersujud kepada Adam, manusia yang baru saja Allah ciptakan ketika itu. Ada apa dengan mereka?

Jelasnya, bukan karena mereka tak kenal sosok-sosok yang dimaksud.

Bagi Firaun, Musa bukanlah sekadar hubungan penguasa dan rakyatnya.  Lebih dari itu, karena kenyataannya sejak masih dalam buaian, Musa hidup dalam asuhan Firaun dan istrinya, Asiah.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Abu Thalib dan paman Nabi lainnnya juga demikian. Mereka adalah kerabat dekat yang banyak membantu secara sosial dakwah Rasulullah.

Pun Iblis saat disuruh bersujud kepada Adam. Ucapannya “Ana khairun minhu” menjadi bukti empirik bahwa Iblis tahu seluk beluk Adam tersebut, Ia bahkan meneliti lalu membandingkan dirinya dengan Adam yang baru kemarin sore diciptakan itu.

Jadi apa alasannya? Selain faktor hidayah Allah, sebab utama lainnya ialah virus angkuh. Sifat sombong (takabbur) inilah yang menjadi tabir penghalang setiap kebenaran yang datang padanya.

Biasanya kebenaran itu harus sesuai dengan selera akal dan nafsunya. Apapun itu jika nalarnya menolak apalagi jika sampai merasa dirugikan secara materi, niscaya jiwanya ikut memberontak dan menampik hal tersebut.

Sekali lagi, orang-orang yang disebut sebagai contoh di atas, bukanlah orang-orang bodoh yang tak punya pengetahuan tentang dakwah yang disampaikan.

Tapi wawasan yang luas itu hanya sebatas di otak saja tanpa turun menghunjam ke hati. Akibatnya segala sesuatu ditimbang melalui logika manusia yang sempit semata.

Apalagi jika ditambah dengan dorongan nafsu yang dihegemoni oleh sifat angkuh tadi. Ibarat cermin kaca, nurani Firaun tertutupi noda pekat. Ia menjadi budak hawa nafsunya.

Mewaspadai Karakter “Firaun” dalam Diri

Setiap jengkal jiwanya hanyalah dipenuhi dengan karat-karat keangkuhan. Nistanya lagi, Firaun tak cuma menampik kebeneran itu untuk peribadinya.

Tapi juga mempersulit kebenaran itu sampai kepada orang lain di sekitarnya.

Tolak ukur kesombongan

Firman Allah:

وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ذَرُونِىٓ أَقۡتُلۡ مُوسَىٰ وَلۡيَدۡعُ رَبَّهُ ۥۤ‌ۖ إِنِّىٓ أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَڪُمۡ أَوۡ أَن يُظۡهِرَ فِى ٱلۡأَرۡضِ ٱلۡفَسَادَ (٢٦)

“Dan berkata Fir´aun (kepada pembesar-pembesarnya): Biarkanlah aku membunuh Musa ‎dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan‎menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi” Dan Musa berkata:‎‎“Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang ‎menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab.” (QS. Ghafir [40]: 26-27).

‎Ragam jenis kesombongan kerap melanda dalam kehidupan manusia. Salah satunya seperti yang tersurat dalam munajat Nabi Musa di atas.

Yaitu, siapa saja yang tak mengimani Hari Kiamat. Musa berdoa:

 “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan Tuhanku dan Tuhan kalian dari (kejahatan) setiap orang sombong yang tak beriman kepada Hari Pembalasan.”

Bagi orang beriman, seharusnya syahadat itu menafikan kesombongan. Orang yang tak beriman kepada Allah dan Hari Akhirat otomatis terkategori sombong.

Ia disebut sombong karena menolak untuk mengakui Tuhan Sang Pencipta, sedang dirinya sendiri adalah makhluk yang dicipta.

Bagi pemilik iman, konsekuensi bersyahadat adalah menyadari sepenuhnya kedudukan dirinya sebagai hamba yang lemah di hadapan Zat Yang Mahakuat.

Jangan jadi Hamba Fir’aun

Sebagai hamba yang hina bagi Tuhan Yang Mahamulia. Sebagai budak yang rapuh di depan kuasa Allah Yang Maha Bergantung segala sesuatu. Demikian seterusnya.

Dengan kesadaran itu, maka orang tersebut punya rasa takut kepada Allah dan senantiasa berakhlak mulia kepada sesama.

Sebaliknya jika bibit ego itu dipelihara, maka dijamin syahadatnya jadi mandul. Tak ada reaksi dari keimanan yang dipunyai kecuali sebatas rutinitas dan formalitas keislaman semata.

Ia bahkan jadi biang segala petaka dan celaka selanjutnya, dunia dan akhirat.*

Redaktur: Masykur Abu Jaulah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:budakfiraunhamba Allahkesombongan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Erdogan Sebut Milisi Pembebasan adalah Tentara Independen
Tulisan selanjutnya Al-Azhar Kecam Ide Buka Kampus di Israel

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Berita
30 Mei 2026 13:05
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?