Hidayatullah–Sebuah koran Jerman memberitakan ketidakmampuan AS menguasai keadaan di Iraq menjadikan negara itu mengalami kerugian besar.
Koran Tags Spiegel menulis, melihat bahwa Bush telah mengumumkan berakhirnya perang di Iraq, maka munculnya berbagai aksi destruktif dan terorisme setelah pengumuman tersebut, menciptakan kondisi yang serba sulit bagi AS.
Sementara itu, Donald Rumsfeld, Menhan AS mengumumkan, saat ini 129 ribu pasukan AS berada di Iraq dan menguasai keadaan dengan baik.
Tags Spiegel menulis, berbagai peristiwa terakhir di Iraq dan Palestina pendudukan membuktikan adanya hari-hari sulit bagi Bush. Karena presiden AS ini tengah berusaha keras mempertahankan gelas pahlawan perang di Iraq, guna mengangkat posisinya dalam persaingan pemilihan presiden AS mendatang.
George Bush, di depan para wartawan di Seatle mengatakan, ” kami memerlukan pasukan yang lebih besar di Iraq”.
Seraya menyambut gembira pengiriman pasukan militer dari negara-negara lain ke Iraq, Bush menambahkan, pasukan-pasukan asing dalam jumlah yang lebih besar akan datang ke Iraq.
Bush menyebut peperangan di Iraq mirip dengan peperangan melawan Al-Qaidah. Menurutnya, Iraq sedang berubah menjadi sebuah negara di mana perang melawan terorisme di sana akan berlanjut terus menerus.
Pernyataan Bush ini mengindikasikan kekhawatiran mendalam AS terhadap meningkatnya ketidakamanan di Iraq.
Dukungan Bush Menurun
Newsweek dalam penelitian terbaru yang diumumkan kemarin malam mendapati 49 persen rakyat AS berhasrat untuk tidak lagi memilih Bush, jika pemilu diadakan sekarang. Sementara 44 persen juga menyatakan mereka akan terus memilih Presiden itu.
Hanya 23 persen responden mengatakan, masalah terorisme dan keselamatan dalam negara menjadi isu paling penting saat pemilu November 2004 nanti, sementara 48 persen mengatakan bahwa faktor ekonomi dan pekerjaan menjadi perhatian mereka saat memilih Presiden nanti.
Hasil penelitian juga menunjukkan, 69 persen responden percaya AS akan gagal di Iraq negara tidak diperintah oleh rakyatnya sendiri.
Mayorutas responden juga percaya, kemungkinan jumlah penambahan pasukan AS justru akan menjadi ancaman keselamatan di negara itu. (ririb/afp)