Hidayatullah.com–Media massa Arab menuduh pihak Washington turut mendesak supaya negara Arab untuk meloloskan satu ketetapan guna melindungi Israel dengan berikrar untuk tidak melancarkan serangan ke atas negara Yahudi sebagai sekutu utamanya itu.
Beberapa media Arab, termasuk media Mesir MENA dan al-Ahram yang memetik sebuah sumber diplomatik melaporkan, Washington telah mendesak agar agenda utama KTT Liga Arab telah berusaha dibatalkan Amerika.
Washington menganggap, pertemuan akan memperngaruhi konflik Israel-Palestina selepas terbunuhnya Sheikh Ahmad Yasin.
Campur tangan langsung pihak Washington dibantah hebat pihak pemerintah yang tidak banyak dipengaruhi AS itu.
Presiden Tunisia, Zine El Abidin Bin Ali yang baru-baru ini berkunjung ke Washington, tiba-tiba membatalkan hasratnya menjadi tuan rumah sidang itu.
Abidin bahkan turut meminta peserta sidang untuk meninggalkan negaranya dan enggan melayani rombongan Palestina, termasuk kehadiran anggota pejuang Palestina, Hamas.
Mubarak hari Senin mengkritik keras Tunisia sekaligus melakukan pembicaraan dengan pemimpin-pemimpin lain untuk menyelamatkan pertemuan puncak itu. “Penundaan sebuah KTT Arab harus dilakukan dengan persetujuan kepala-kepala negara,” kata Mubarak dalam wawancara dengan televisi Orbit. “Tidak ada alasan penundaan itu dan satu pihak bisa memaksakan pandangannya secara sepihak.”
Mubarak mengatakan, dia telah bertindak “untuk menyelamatkan keadaan” dengan mengimbau agar KTT dilakukan secepat mungkin dan menawarkan pelaksanaannya di Cairo, markas besar Liga arab.
Kantor berita Mesir Middle East News Agency (MENA) mengatakan, Mubarak membicarakan rencana penyelenggaraan KTT Arab di Cairo dengan Menlu Saudi Pangeran Saud al-Faisal, dan Sekjen Liga Arab Amr Moussa di Cairo. Mubarak juga akan membicarakan hal itu dengan Raja Bahrain Hamad bin Issa Al-Khalifa, Senin malam, dan dengan Menlu Suriah Farouk al-Sharaa hari Selasa. Bahrain kini menjadi ketua pertemuan puncak Arab itu.
Sumber-sumber yang dekat dengan staf Mubarak mengatakan, Bahrain, Jordania, dan Arab Saudi mendukung langkah Mesir itu. Putra Mahkota Abdullah, penguasa de facto Arab Saudi, bersepakat dengan Mubarak mengambil langkah yang diperlukan untuk mengadakan KTT itu di Cairo “secepat mungkin”. (ap/afp)