Hidayatullah.com—Seperti tahun-tahun sebelumnya, pemerintah Turki bersama kaum Yahudi kembali mengenang peristiwa Holocaust di Universitas Ankara, dan di tahun 2017 pemerintah memperingatkan soal rasisme dan ekstrimisme yang kembali merebak di Eropa.
“Kita mengenang jutaan orang yang kehilangan nyawanya selama Holocaust dengan penuh penghormatan,” kata Kementerian Luar Negeri Turki dalam pernyataannya yang dibuat dalam rangka peringatan Holocaust 27 Januari.
“Menyadari tanggung jawabnya, Turki bertekad akan terus memerangi anti-Semitisme, rasisme, xenophobia, dan Islamophobia, yang malangnya mendapat tempat kembali di dunia sekarang ini.”
“Jutaan orang tak bersalah, terutama Yahudi, dibantai lewat cara terorganisir dan sistematis oleh rezim Nazi dan kolaboratornya,” tambah pernyataan itu, seperti dikutip Hurriyet.
“Hari ini, adalah kewajiban kita untuk berbuat apa saja yang diperlukan untuk menghindari terulangnya kembali Holocaust, satu dari periode terkelam dalam sejarah umat manusia. Ini adalah tanggung jawab bersama seluruh umat manusia,” tegas Kemenlu Turki dalam pernyataan itu, yang dikutip sejumlah media Turki dan dimuat di laman situs kedutaannya di Jakarta.
- Menteri UE Turki mengenang Holocaust bersama kepala rabi Yahudi
- Menyanyi bagian dari tradisi, Yahudi Turki kenang Holocaust dengan alunan musik
Turki aktif dan rutin menggelar acara peringatan Holocaust sejak tahun 2008.
Tahun ini, pemerintah Ankara mengutus Wakil Perdana Menteri Yildirim Tugrul Turkes mewakili pemerintah dalam peringatan yang digelar di Universitas Ankara 27 Januari lalu.
Dilansir media Yahudi Turki, Salom, ikut menghadiri acara tersebut adalah pemimpin komunitas Yahudi Turki Ishak Ibrahinzadeh, para tokoh terkemuka komunitas Yahudi di Turki, sejumlah diplomat asing termasuk Dubes Israel untuk Turki Eitan Na’eh, serta Dubes Amerika Serikat untuk Turki John Bass.
Di acara itu Kepala Rabi Ashkenazi Turki Rav Mendy Chitrik dan putranya, Chaim Chitrik, membawakan “Eli Ata”, lagu spiritual Yahudi. Film dokumenter Holocaust juga ditampilkan dalam acara tersebut.
Dalam sambutannya, Wakil PM Turkes mengatakan bahwa Holocaust adalah genosida sistematis yang belum pernah terjadi sebelumnya pada masa itu. Dia menekankan fakta bahwa Nazi mengerahkan segala kemampuannya, baik dengan mobilisasi maupun keunggulan teknologinya, untuk membunuh lebih cepat dan lebih banyak orang.
“Sayangnya, kita sedih melihat bahwa anti-Semitisme, Islamophobia dan xenophobia merebak sekarang ini seperti wabah di seluruh dunia dan juga mempengaruhi sebagian lingkaran marjinal di negara kita dari waktu ke waktu. Saya ingin tegaskan bahwa kita tidak punya pilihan kecuali menunjukkan tidak ada toleransi untuk sentimen anti-Semitisme, Islamophobia, anti-Kristen dan kejahatan kebencian semacamnya. Sejarah malangnya menunjukkan kita melalui Holocaust harga yang harus dibayar untuk sikap diam terhadap aksi yang mengutuk identitas etnis atau agama apapun. Dalam konteks ini, Turki akan terus berpartisipasi aktif dalam upaya mengkaji lebih jauh Holocaust dengan kesungguhan yang sama di masa-masa mendatang,” kata Turkes seperti dikutip Salom.Rabu (1/2/2017).
Aylin Tashan, pimpinan International Holocaust Remembrance Alliance (IHRA) Turki , menggambarkan Holocaust sebagai manifestasi dendam, kebencian dan ketakutan terhadap keberagaman.
Kepala Rabi Turki Ishak Haleva mengirimkan pesan untuk acara itu. Dia mengkritik soal penyangkal Holocaust dan menekankan tentang perlunya selalu mengingat peristiwa tersebut dan tidak pernah melupakannya.
“Dunia yang mana orang-orangnya tidak mengambil pelajaran dari masa lalu dan akan membiarkan sejarah itu terulang dengan sendirinya, pastinya sama sekali tidak berhak hidup lebih lama secara terhormat di peradaban milenium ketiga,” kata Haleva.
Pemuka Yahudi Turki itu menutup pesannya dengan mengatakan bahwa Holocaust harus menjadi bagian integral dalam pendidikan.*